Pages

0

Anakku Kok Belum Bisa Bicara? Apakah Anakku Speech Delay?



Halo Ibu-Ibu.. sudah lama rasanya tidak menulis di blog ini. Kali ini saya ingin berbagi cerita mengenai anak perempuan saya, bernama Hilya. Cerita bermula ketika berusia 15 bulan, Hilya belum bisa mengucapkan kata apapun, bahkan untuk memanggil ayah dan ibunya saja belum bisa. Saya mulai khawatir, namun orang-orang sekitar selalu menenangkan dan tidak ambil pusing terhadap kemampuan bicara Hilya. Tapi, sebagai seorang ibu pasti memiliki feeling yang kuat terhadap keadaan anaknya dan ketika itu saya merasa ada yang tidak beres dengan Hilya sehingga saya harus cari tahu.

Ketika jadwal vaksin tiba, saya berkonsultasi dengan dokter mengenai kondisi Hilya. Lalu dokter menyarankan untuk konsultasi dengan dokter spesialis rehabilitasi medik kenalannya yang biasa menangani masalah serupa dengan Hilya. Keesokan harinya saya langsung menemui dokter tersebut. Konsultasi dimulai.. Hilya mulai discreening dengan diminta untuk menyebutkan benda-benda dan gambar-gambar yang ada di sekitar. Tidak ada yang bisa dijawab oleh Hilya πŸ˜‚ Saya juga ditanya berbagai macam pertanyaan, seperti :

·             πŸ‘±   Apakah sudah bisa memanggil mama papa?

        πŸ’¬ Belum

·              πŸ‘±  Apakah di rumah menggunakan 2 bahasa?

        πŸ’¬Tidak

   πŸ‘±  Apakah biasa menggunakan gadget?

        πŸ’¬Iya, kalau makan, karena Hilya termasuk anak yang sulit makan

   πŸ‘±  Apakah Hilya bisa memahami ketika di berikan instruksi?

      πŸ’¬Paham. Hilya mengerti perintah-perintah sederhana, seperti buang sampah, menutup pintu, dan lain-lain.

Setelah dokter mendengar jawaban saya, dokter belum bisa memberikan diagnosa apapun karena usianya yang masih terlalu kecil. Dokter hanya menyarankan untuk lebih sering mengajaknya bicara dan mengurangi penggunaan gadget, lalu dilihat perkembangannya sampai usia 2 tahun.

Waktu berlalu, usia Hilya menginjak 18 bulan. Belum ada perkembangan dari kondisi Hilya. Padahal menurut IDAI, “Dalam kurun waktu ini anak akan mengalami ledakan bahasa. Hampir setiap hari ia memiliki kosakata baru. Ia dapat membuat kalimat yang terdiri atas dua kata (mama mandi, naik sepeda) dan dapat mengikuti perintah dua langkah”. Jangankan dua kata, satu kata pun Hilya belum bisa. Melihat anak-anak seusianya mulai cerewet juga membuat saya semakin khawatir dan minder. “Ada apa dengan anak saya?” “Apakah anak saya speech delay?” “Atau ada kondisi lain yang membuat dia tidak mau berbicara sedikitpun?”…. Pertanyaan-pertanyaan tersebut berkecamuk di hati dan pikiran saya setiap hari.

Untuk sedikit menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya mencari tahu lebih lanjut mengenai speech delay pada anak. Akhirnya saya menemukan artikel mengenai Speech Delay pada anak di website Ibupedia (https://www.ibupedia.com/artikel/kesehatan/anak-terlambat-bicara-di-usianya-waspada-speech-delay). Jadi sebenarnya speech delay itu apa sih? Berdasarkan website Ibupedia, Speech Delay merupakan kondisi atau lebih tepatnya gangguan komunikasi yang menyebabkan anak kesulitan untuk bicara. Lalu bagaimana tanda-tandanya? Berikut beberapa poinnya :





(Sumber : https://www.ibupedia.com/infografis/tanda-speech-delay)

Dari poin-poin diatas, Hilya memenuhi beberapa kriteria tersebut. Saat itu, saya semakin yakin bahwa saya harus berkonsultasi lagi ke dokter tumbuh kembang untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Saya tidak bisa menunggu hingga usia 2 tahun, khawatir semakin lama menunda akan semakin terlambat penanganannya.

Ketika Hilya usia 19 bulan, saya datang ke klinik tumbuh kembang anak dan berkonsultasi dengan dokter spesialis tumbuh kembang anak. Dokter melalukan screening terhadap tumbuh kembang Hilya untuk memberikan diagnosa yang tepat. Pertanyaan-pertanyaannya kurang lebih sama seperti screening awal dengan dokter rehabilitasi medik sebelumnya, namun kali ini pertanyaannya lebih detail, seperti :

·         πŸ‘±  Apakah ada riwayat keluarga yang mengalami keterlambatan bicara?

    πŸ’¬Tidak

·         πŸ‘±  Apakah Hilya melewatkan tahapan merangkak sebelum berjalan?

    πŸ’¬Tidak, Hilya justru mengalami fase merangkak yang cukup lama

·         πŸ‘±  Apakah Hilya bisa menunjuk anggota badan, minimal yang ada di daerah kepala?

    πŸ’¬Belum

Setelah mendengar jawaban-jawaban dari saya, Hilya diminta untuk bermain puzzle, menyusun balok, dan lain-lain. Namun saat pertemuan tersebut, Hilya hanya diam, tidak responsif terhadap permainan yang diberikan. Setelah screening, dokter menjelaskan bahwa jika dilihat dari perkembangan bahasanya saat itu memang Hilya masih jauh dari standar usianya, jadi Hilya memang ada kecenderungan ke arah speech delayPenyebab speech delay sendiri sebenarnya bermacam-macam ya, Bu.. Namun pada kasusnya Hilya, kemungkinan besar penyebabnya adalah kurangnya stimulasi dan pengaruh pemberian gadget. 

Oleh karena itu, dokter menyarankan untuk terapi Sensori Integrasi untuk meningkatkan konsentrasi dan fokusnya terlebih dahulu, lalu nanti ketika usianya sudah 2 tahun bisa dilanjutkan dengan terapi wicara. Kenapa harus terapi sensori integrasi dulu? Karena nantinya saat terapi wicara anak akan duduk diam dan membutuhkan fokus yang cukup untuk dapat menerima informasi dengan baik. Semua jenis terapi yang diberikan disesuaikan dengan kondisi anak ya Bu, tidak semua anak akan mendapatkan jenis terapi yang sama.

Setelah sesi konsultasi selesai, saya terdiam, merasa sedih dan gagal sebagai seorang ibu. Feeling Ibu memang tidak pernah salah kalau soal anak. Dari awal merasa ada yang tidak beres dengan Hilya, merasa butuh bantuan dari seorang ahli, dan ternyata feeling tersebut benar. Disaat itu, orang-orang di sekitar tidak setuju jika Hilya harus menjalani terapi. Suami dan orang tua saya merasa Hilya baik-baik saja. “tenang aja, nanti juga kalau sudah waktunya pasti bisa ngomong sendiri. Gausah terlalu khawatir lah”. Kalimat itu yang selalu saya dengar dari orang-orang terdekat saya yang mengetahui kondisi Hilya. Tapi saya tetap pada pendirian saya untuk mengikuti saran dokter, tidak peduli omongan orang lain. Ini anak saya, saya yang tahu kondisinya dan saya harus bisa mengambil keputusan terbaik untuk anak saya. Selain itu, saat konsultasi tadi, dokter pun mengatakan bahwa apa yang saya lakukan sudah tepat, yaitu segera membawa Hilya konsultasi ke dokter tumbuh kembang ketika menyadari ada tanda-tanda anak terlambat bicara. Dokter juga mengatakan bahwa semakin cepat ditangani maka kesempatan menyusul ketertinggalannya akan semakin cepat juga.

Terapi Sensori Integrasi dimulai, Hilya cukup kooperatif dan responsif dengan permainan yang ada disana. Terapis juga sangat sabar mendampingi Hilya. Permainan di kelas Sensori Integrasi ini, seperti menaiki papan titian, melempar bola, naik turun tangga, memanjat tali, mengenal tekstur (dari biji-bijian, beras, slime, dan lainnya), memasukkan koin ke dalam celengan, meronce, dan masih banyak permainan lainnya yang dapat melatih konsentrasi, fokus, serta keseimbangan. Terapi ini dilakukan 2 kali seminggu dan diberikan PR yang bisa dilakukan di rumah untuk mempercepat progresnya.

Selain terapi di klinik, di rumah saya juga memaksimalkan untuk memberikan stimulasi yang tepat sesuai arahan terapis. Saya banyak berkomunikasi dengan Hilya, mengobrol tentang apapun. Menemani Hilya bermain puzzle hewan sambil mengidentifikasi nama-nama dan suaranya, atau mengajak bermain permainan lain, karena Hilya senang sekali bermain. Dia bisa cepat menangkap informasi justru dari bermain. 

Dua bulan setelah rutin terapi Sensori Integrasi ini, banyak sekali perkembangan Hilya yang saya rasakan. Hilya sudah bisa mengeluarkan beberapa kata yang sederhana seperti :

·            πŸ‘§ Nyenye = nenen/menyusu

·            πŸ‘§Emam = makan

·            πŸ‘§Aba = panggilan untuk ayah

·            πŸ‘§Mimi = minum

Selain itu, Hilya juga sudah bisa menunjuk beberapa anggota tubuh, memasang puzzle dengan posisi yang tepat, dan bisa lebih lama fokus pada satu permainan. Ini awalan yang baik bagi saya, saya merasa senang karena saya membuat keputusan yang tepat untuk Hilya.

Di usia 22 bulan, Dokter melakukan observasi kembali. Menurut beliau, perkembangannya cukup bagus, dan saat itu Hilya bisa mencoba untuk terapi wicara walaupun usianya belum genap 2 tahun.  Namun perlu dilihat, apakah benar-benar sudah bisa mengikuti terapi tersebut atau belum. Jika dicoba satu kali dan belum bisa, maka tidak perlu dilanjutkan dulu dan kembali ke terapi sensori integrasi saja, jika bisa mengikuti, silahkan dilanjutkan terapi wicara dan terapi sensori integrasi. Ternyata di pertemuan pertama, Hilya bisa mengikuti terapi wicara dengan baik sehingga bisa terus dilanjutkan secara rutin.

Sampai saat ini usia Hilya sudah 26 bulan (2 tahun 2 bulan) masih rutin terapi. Banyak perkembangan yang saya rasakan. Kosa kata Hilya semakin banyak meski artikulasinya belum jelas, pemahamannya juga semakin luas. Walaupun belum mencapai standar kemampuan bahasa yang sesuai usianya, tapi saya percaya suatu saat Hilya bisa lancar berbicara seperti anak-anak yang lain. Semua bisa tercapai tidak hanya karena terapinya ya, tapi peran orang tua dan orang-orang yang ada di rumah juga penting, karena terapi hanya 2 kali seminggu dan sisa waktu anak dihabiskan di rumah bersama orang tua. Selain usaha, doa juga selalu saya panjatkan agar Hilya tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahapan usianya, agar bisa berbicara dengan lancar sehingga bisa mempermudah ia berkomunikasi dengan orang lain.

Buat Ibu-ibu yang merasa anaknya menunjukkan tanda-tanda yang mengarah ke speech delay, bisa segera konsultasikan dengan dokter ya. Tidak perlu merasa malu, tidak perlu merasa takut, dan tidak perlu mendengarkan kata orang yang tidak tahu persis tentang anak kita. Kita cukup mengenali anak kita sebaik-baiknya, peka dengan tanda-tanda yang diberikan anak, dan cari ilmu sebanyak-banyaknya, salah satunya bisa dengan mengunjungi website Ibupedia di www.ibupedia.com karena disana banyak sekali artikel mengenai parenting. Semoga tulisan tentang pengalaman saya ini bisa bermanfaat untuk ibu-ibu yang mungkin sedang memiliki kegelisahan yang sama. Sampai jumpa di cerita-cerita lainnya 😊

 

 



0

ISTIQOMAH

Yaaa… JODOH.. Hanya Allah yang memiliki hak untuk mengetahui rahasia besar itu.
Bagi kita, mungkin dia, mungkin kamu, atau mungkin orang yang belum pernah kita temui hingga saat ini adalah jodoh kita. Huallahualam. Iri melihat teman yang begitu bahagia dengan pasangan mereka? Tentu saja. Manusiawi bukan? Hanya saja sikap tersebut menjadi tidak manusiawi ketika dibarengi dengan ambisi yang terlalu kuat untuk menyamai posisi dengan mereka.
Aku.. seorang akhwat yang masih jauh dari kata solehah yang menjadi impian para ikhwan soleh. Begitu banyak salah, dosa dan khilaf yang aku lakukan dan mengotori sedikit demi sedikit kesucian hati yang telah diberikan olehNya. Betapa hinanya aku dihadapan Sang Pencipta. Allah, ampuni segala dosa dan khilafku.
Cukup, ukh! Kamu itu bisa istiqomah. Kamu dilahirkan dari keluarga yang begitu taat dengan Sang Pencipta. Biarkanlah jutaan godaan itu menghampirimu. Tetaplah jalan di bumi Allah dengan segala ketaatan yang kamu miliki.

Mereka yang menyakitimu, yang menggodamu adalah cobaan sekaligus teguran dari Allah atas segala yang kamu perbuat. Mereka tidak salah. Hanya kamu yang masih goyah dari ke-istiqomah-an mu. Mulailah berubah. Mulailah menapaki anak tangga kehidupan yang lebih baik.Allah Maha Penolong. Ia  pasti akan menolong hambaNya yang mengalami kesulitan. Karena dibalik kesulitan pasti ada kemudahan.
0

Some Memories Never Fade


Hey kamuu.. Yaa kamu yang ada disana.. Kamu yang namanya selalu terperangkap dalam pikiranku. Sudah lama ya kita tak bersua? Bagaimana kabarmu disana? Sudahkah bahagia tanpa diriku? Sudahkah menemukan kebahagiaan yang lain dengan pujaan hatimu?

Tak pernah terdengar kabarmu tentangmu, entah ada angin apa, hari ini kamu datang, menghadirkan segelintir kenangan yang dulu sempat terukir indah oleh kisah kita. Menyedihkan. Karena apa? Karena kamu hadir dengan segelintir kenangan itu sembari menorehkan sejuta luka dihatiku. Namun tenanglaah… Aku tak pernah merasa perlu untuk balas dendam. Aku hanya perlu mendoakanmu untuk bisa menjalani kehidupan yang lebih baik setelah tak bersamaku.

Terlalu banyak harapan yang kau lontarkan hanya untuk sekedar menghiburku. Sayangnyaa.. aku sudah sangat mengerti bagaimana kamu. Karena kita bukan anak umur 5 tahun yang baru saling mengenal.

Jika kamu datang disaat kamu membutuhkanku, insyaallah, aku dengan segala keterbatasanku akan ada untukmu, tanpa meminta sebaliknya. Aku juga tau kamu terlalu cinta dengan duniamu. Sehingga tak sepantasnya aku mengharapkan sedikit waktumu untukku.


Untukmu yang telah bahagia disana…. Semoga Allah selalu bersamamu, melindungimu, menjagamu, hingga kau temukan seseorang yang dapat menjagamu dan membuatmu kuat untuk menerjang level kehidupan selanjutnya J
0

ALLAH is my only HOPE


Masih percaya dengan harapan yang diberikan oleh makhluk-makhluk Allah?
Sebaiknya tidak... Karena apa? tidak sedikit manusia yang memberikan harapan, namun tanpa sadar justru menyakitkan saudaranya yang lain.
Tentu saja kita tidak mau terus menerus kecewa dengan harapan-harapan itu kan? ALLAH! satu-satunya yang tidak pernah memberikan harapan kosong apalagi harapan palsu. Dia hanya menguji kesabaran kita untuk menantikan realisasi harapan yang telah Dia berikan.

"ALLAH is my only HOPE"
Tanamkan dalam hati. Berdoa untuk selalu istiqomah.
0

COME ON GIRL!


Air mata ini terlalu berharga hanya untuk mengikuti emosiku. Aku wanita kuat. Aku bukanlah wanita cengeng dan rapuh. Sadarlah bahwa aku adalah anak pertama yang sangat diandalkan oleh kedua orangtuaku.
Ini bukan saatnya untuk bersembunyi di belakang orangtua. Inilah saatnya aku maju ke depan menggantikan kedua orangtuaku sekedar untuk menggantikan mereka yang telah sekian lama menuntunku di depan. Setiap masalah yang datang bukanlah untuk ditangisi. Tapi untuk dihadapi tanpa mengeluh pada orangtua. COME ON GIRL!!!! Aku bisa menghadapi ini semua. AKu pasti bisa. Allah itu tak pernah memberikan cobaan diuar kemampuan kita. 
0

YOU’LL BE SUCCESS IF YOU CREATE YOUR SUCCESS!


YOU’LL BE SUCCESS IF YOU CREATE YOUR SUCCESS!
Yaaaa, kamu akan sukses kalau kamu mau untuk menciptakan kesuksesanmu. SUKSES. Sebuah jargon angkatan 2012. Satu kata tersebut  juga merupakan tujuan akhir dari kehidupanku. Sukses di ranah keilmuan, dan sukses dalam menjalankan perintah Allah SWT.
Namun apa yang telah ku usahakan untuk mendapatkan kesuksesan tersebut. Satu demi satu anak tangga kehidupan telah ku lewati. Bukan hal mudah untuk melewati setiap anak tangga yang kelihatannya amat sanagt mudah dilewati. Dibutuhkan usaha keras, peluh, air mata, dan senyuman J
Ini merupakan salah satu anak tangga tersulit yang ku capai. Air mata dan peluh sudah pasti telah terkuras. Sakit dan lelah pun sudah pasti kurasakan di setiap ku coba untuk menapaki anak tangga ini.
Bahagia. Perasaan itu yang kurasakan ketika ku berhasil menapaki anak tangga ini. Namun tidak seperti yang dibayangkan. Tantangan pada level ini benar-benar berat. Tuntutan kedua orangtua akan prestasi akademikku, otakku, fisikku, organisasi. Semua seakan menunjukkan ketidak selarasan yang membuatku terkadang labil dalam menghadapi masalah ini.
Namun, mulai saat ini, detik ini, jam ini, hari ini, dan seterusnya aku akan melakukan perubahan. Perubahan yang membuatku lebih mudah untuk menapaki satu demi satu anak tangga sampai pada akhirnya aku sampai di puncak anak tangga kesuksesan.
CHANGE!!! NOW or NEVER!!!!!!!
0

MABIM ooooh~ MABIM


Assalamualaikum readers, pusing ya liat tulisannya? Maaf yah, buat variasi aja kok biar ga bosen hehee :D Alhamdulillah aku masih dikasih waktu untuk sedikit bercerita pengalaman yang baru saja ku lewati... yeeaaaahhh cekidot :D

Hari ini, hari kamis pertamaku setelah mabim usai. Malam hari ini aku sedikit refresh otakku untuk sementara waktu dengn membuat tulisan ini. Aku membuat tulisan ini sebagai draft, dan entah kapan aku akan post tulisan ini dalam blog tercintaku.
Masih teringat ketika PSAF selesai dengn segala euphoria yang ada didalamnya. Ketika itu kami (maba FKM UI) benar- benar merasa udara kebebasan yang akan segera kami rasakan. Namun ternyataaaa…………..*jengjeng* masih ada MABIM.  Mabim adalah masa bimbingan yang ternyata didalamnya terdapat banyak tugas. Tugas yang ketika aku mendapatkannya seakan tak sanggup aku terima dan kerjakan. Mulai dari tandatangan warga FKM sampai resume-resume disetiap kegiatan yang kami lakukan selama mabim. Awalnya memang benar saja kalau tugas mabim itu berat. Dimulai dari bukunya aja udah ribet meeeeeeeeeeennnn… Bayangin aja, buku mabim angkatan kami berbentuk awan dengan 121 lembar. Kalau tanganku bisa teriak, pasti dia udah teriak kesakitan karena menggunting 121 lembar kertas dengan bentuk awan. Itu baru tugas pertama lohh.. Tugas-tugas yang lain ga kalah beratnya dari tugas pertama tadi. *tariknafas* “okey, gue pasti bisa lewatin ini semua” ucapku dalam hati. Oh iya, di setiap minggu, tepatnya pada hari jumat, ada evaluasi mabim. Di hari itu tugas-tugas kami diperiksa hingga sedetail mungkin *salut buat kakak pemeriksa* (y). Nah, ritual anak-anak FKM UI 2012 selama mabim adalah begadang di setiap malam jumat, agak horror sih tapi memang itu kenyataannya. Mungkin karena tugas kuliah yang udah banyak dan bertumpuk-tumpuk, jadi kami semua menjadi DEADLINERS untuk tugas mabim. Hahahaaaaa~ entah kenapa, selalu ketawa kalau inget masa-masa itu.
Fix. Aku ga akan ngejelasin panjang lebar tentang evaluasi-evaluasi selama sebulan kemarin. Yang jelas, di setiap evaluasi ada esensi-esensi yang ngena di hati *menurut gue*. Nah, setelah evaluasi mabim ke-4, kami mengikuti simulasi aksi yang diadakan panitia OKK. Acara itu bener-bener tak terduga deh. Bayangin aja, aku datang ke kampus dengan pakaian rapi + atribut (karena mabim belum resmi selesai), eeeeeeh pulang dengan penampilan yang basah kuyup. Kenapa bisa basah kuyup? Simple. Waktu simulasi aksi, panitia nyewa pemadam kebakaran dan kami disiram dengan air dari pemadam kebakaran tersebut. Dalam simulasi aksi kemarin, aku jadi border lohh, percaya ga percaya tapi emang bener kalo aku jadi border. Dan kalian tau? Sampai rumah dan selama dua hari tanganku sakit karena jadi border. Hahahaaa~
Dan setelah mabim ini, selama seminggu kami benar-benar merasakan segarnya udara kebebasan. Tanpa tugas dan tanpa atribut. Tapi perjuangan belum selesai. Masih ada magang (masih gantung magang dimana), dan tribute. Namun aku sadar dan yakin bahwa perjuangan yang sebenarnya adalah perjuangan kami bertahan hidup dengan kehidupan kampus yang “kejam”.
“PERJUANGAN MASIH PANJANG, KAWAN! SELURUH RANGKAIAN OKK HANYALAH GAMBARAN KECIL KEHIDUPAN KITA DI KAMPUS. SETELAH OKK, SAAT ITULAH WAKTUNYA KITA MELAKUKAN PEMBUKTIAN BAHWA KITA PANTAS UNTUK TETAP BERTAHAN DAN BERSAING SECARA SEHAT DI KAMPUS SELAMA 4 TAHUN KE DEPAN!”
0

sepotong episode masa laluku


dahulu ketika kita masih sama sama sendiri, kita mulai mencoba mendekat..
melalui kedekatan tersebut masing masing dari kita merasa cocok..
sampai akhirnya kita dipersatukan walau dalam waktu yang singkat..
tahukah kau mengapa waktunya sangat singkat?
mungkin kau menyalahkanku atas semua keputusan yang kubuat dengan tiba - tiba. namun sebenarnya aku mempunyai maksud tersendiri atas semua itu.
aku merasa kau masih sangat menjaga sepotong episode masa lalumu sampai tidak mempedulikan episode demi episode yang baru kau lakukan atau bahkan yang akan kau lakukan.
hal ini akan membuat episode2 tersebut tidak berjalan lancar..
karena inilah aku memutuskan untuk menghentikan cerita singkat ini, dan memberikan kesempatan kepadamu untuk kembali pada cerita lamamu dan melanjutkan potongan episode masa lalu yang belum bisa kau selesaikan.
JUJUR, keputusan ini membuatku sakit dan terluka, namun akutidak akan mencabut keputusan yang telah kubuat, karena apa? karena ku yakin kau akan lebih bahagia bersama masa lalumu.
aku akan bahagia melihat kau bahagia, walaupun aku mengorbankan perasaanku demi kebahagiaanmu.
Dan satu hal, aku masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu!
walau begitu, biarlah perasaan ini terpendam dalam hati ini dan semoga secepatnya dapat terhapus oleh waktu, karena aku masih ingin memiliki perasaan yang lebih besar kepada Allah. karena ku yakin aku akan lebih bahagia jika memiliki perasaan ini terhadap Tuhanku sendiri, ALLAH SWT
0

Beginikah cinta?

Aku berlari dengan nafas memburu. Otakku seakan berhenti berpikir, dada sesak, penuh, semua sesal dan sedih berkecamuk jadi satu. Kususuri jalanan kampus yang masih sedikit basah karena hujan kemarin malam. Aku benar-benar kalut. Bingung. Pikiranku mulai bergumam sendiri dengan batinku.
“Beginikah jadinya? Beginikah rasanya mengakhirkan harapan?
Beginikah rasanya menghentikan cinta yang sudah terlanjur dalam?
Aku harus berkata apa? Bertanya pada siapa?”
Jalanan ini tentu saja takkan memberi jawab. Sore menuju senja yang selalu indah ini tentu saja takkan menenangkanku. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain kekalutan yang luar biasa menghinggapi dada.
“Haruskah melepasmu cinta? Melepas segala rasa yang tumbuh subur merekah hingga kini dan entah kapan berakhirnya?
Haruskah ku bunga jauh-jauh penggal harap yang entah kenapa masih membuatku sesak ketika kutahu aku tak bisa memilikimu cinta?
Haruskah aku membalikkan semua waktu agar perasaan ini tidak pernah ada di dalam diri? Atau setidaknya…
Ahh… Allah… mungkinkah kau izinkan aku mengembalikan kekosongan jiwa agar yang terisi hanya KAMU? Hanya KAMU ya Rabb… Hanya KAMU… hanya KAMU yang kucinta. Mungkinkah ya Rabb?”
Dadaku semakin sesak. Air mata lagi-lagi dengan tak sopannya keluar tanpa pernah mau kuperintahkan. Aku laki-laki, dan kini aku menangis.
“Aku benci dengan perasaan ini. Benci dengan keadaan ini.
Aku sadar aku harus bangkit. Tak boleh lemah hanya karena kehilangan kesempatan merealisasikan harapku.
Aku tak boleh kalah, hanya karena imaji yang sedari dulu kubangun akhirnya pergi dan menghilang tanpa bekas. Aku benci dengan semua perasaan yang telah porak-poranda ini. Aku harus bangkit. Tak boleh seperti ini.”
Kukuat-kuatkan hatiku agar tetap seperti dulu. Tenang dan segar. Namun percuma. Setiap larian kecilku mengelilingi kampus hijau ini, membuatku semakin tergugu. Pikiranku tak bisa untuk kuhentikan dalam mengingat sang permata jiwa. Semua kenangan seperti tergambar jelas di benakku. Kenangan tentangnya semua menyeruak tanpa tahu betapa aku sakit ketika mulai mengingatnya.
Cinta… atau entah apa namanya. Kenapa begitu mempengaruhiku hingga semua alam rasionalku pergi entah kenapa. Maryam Syakila, sosok itu. Yang mengisi penggal harapku hingga detik ini terus saja berkeliling di alam pikirku.
“Sedalam inikah perasaanku? Separah inikah aku tenggelam dalam cinta yang semu?
Jika memilikimu bukanlah takdirku, maka tolong berilah aku kesempatan untuk pergi darimu. Sejenak melupakan apapun tentangmu.
Aku ingin amnesia sejenak, tak pernah mengenal siapapun terutama kamu dari hidupku. Ini terlalu menghempaskan. Merebut semua rasaku.
Aku mati, mati rasa.
Dalam kekakuan, kebekuan, namamu masih saja ada. Harus ku kata apa, jika memang segalanya begitu dalam terasa? Harus kubilang apa cinta?”
Aku membodoh-bodohkan diriku sendiri setelah melewati lebih dari 3 kilometer. Berlari tanpa arah. Pikiranku tertuju kembali mengenang kisah usaha untuk melamar Maryam Syakila selama 2 pekan ini.
“Mohon maaf, apakah Zahra bisa membantuku mencari tahu perihal Maryam Syakila? Bukankah dia sahabatmu sejak SMA?” Sapaku kepada Zahra, sahabat dekat Maryam semenjak SMA. Setahuku mereka memang masih dekat hingga sama-sama melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia (UI). Kukirim email singkat ini kepadanya.
Jangan Tanya degupan jantungku saat itu. Aku begitu tegang tak terkira. Ini adalah momen yang sudah kutunggu sejak lama. Sudah 9 tahun, aku mengagumi sosok bernama Maryam Syakila. Dia sederhana, tak banyak bicara, namun cerdas dan mempesona. Apalagi yang mau kukata jika dia telah menjadi yang pertama dalam perasaanku, dan entah kapan lagi aku bisa mengakhirkan segala rasa ini. Perasaanku semakin dibuat tak karuan ketika mengetahui keshalihannya. Semenjak SMA, baju seragamnya yang panjang ditutupi dengan jilbab yang terurai indah sampai ke dadanya membuat jantungku semakin berdetak kencang setiap kali bertemu dengannya. Aku harus berkata apa, jika cinta telah merenggut habis semua perasaanku? Aku hendak menghentikan segalanya, namun segala tentangnya telah merebut habis setiap sisi hatiku. Aku juga hendak menghentikan segala pengaruh tentangnya, tapi apa lagi yang mampu ku buat, ketika penantian hamper 10 tahun ini, akhirnya datang juga. Ini kesempatan terbaikku untuk merealisasikan imaji, harap, dan doa yang sudah kusimpan erat sejak dulu. Aku harus melamarnya dan menjadikannya istimewa dalam nyata. Itu saja. Tak ada yang lain yang aku siapkan dan pikirkan selain merealisasikan segala rencana untuk menikah dengannya.
“Oh ya… Alhamdulillah saya masih sering berkomunikasi dengannya. Ada apa ya?” Zahra membalas emailku melalui YM yang kuhidupkan sejak tadi.
“Hmmm… Saya hendak menjalankan salah satu sunnah Rasul. Saya ingin tahu apakah Maryam Syakila sedang proses Ta’aruf atau telah di khitbah oleh seseorang? Jika tidak, saya ingin melamarnya…” Jawabku tanpa pikir panjang. Buatku ini melegakan.
“Oalah…” Jawab Zahra sedikit kaget.
“ :) ” Aku membalasnya dengan icon tersenyum, memahami kekagetannya.
“Baiklah Rangga. Tunggu aja ya kabarnya dalam 1-2 hari ini. Insya Allah akan saya beritahukan informasinya…” Tutup Zahra
Sudah 2 pekan ini, malam-malamku adalah malam-malam penghambaan penuh khusyu kepada Allah. Aku mengirimkan doa terindah kepada-Nya, berharap DIA berkenan mempertemukanku dengan Maryam. Berharap segala daya dan usaha yang kulakukan hingga saat ini diberkahi dengan sebuah momen terindah yang telah kupatrikan dalam do’a-do’aku selama 9 tahun ini. Aku hanya berharap memilikinya, itu saja.
Esoknya, aku menerima sms singkat dari Zahra yang memberitahukan info lengkap soal Maryam ada di inbox emailku.
Aku buru-buru membuka emailku berharap ada berita yang melapangkan jiwaku. Namun betapa kagetnya, ternyata isi email yang dikirimkan Zahra kepadaku sungguh berbeda dengan yang kukira.
“Mohon maaf Rangga… Saya sudah mengecek kondisi Maryam, terkait kesempatanmu untuk melamarnya. Saat ini, dia sudah di khitbah oleh seorang ikhwan dan Insya Allah akan melangsungkan akad dan walimahannya bulan Desember tahun ini…”
Hilang sudah… Pecah… Semua harapan itu sirna. Aku terlambat, sangat terlambat. Tubuhku bergetar seketika, hatiku tak bisa berkata apa-apa selain merasai kekalutan yang luar biasa. Aku terdiam, dan tak sadar, air mataku dengan sendirinya mengalir.
Habis sudah… kering… tak ada lagi harapan yang ku bangun bertahun-tahun. Aku memang lambat, aku memang bodoh, aku memang kerdil. Kenapa sedari dulu aku tidak memulai duluan untuk melamarnya? Kenapa dari dulu aku tidak berani merealisasikan segala macam perasaan ini agar mampu bersama dengannya? Kenapa?
Beribu pertanyaan berkecamuk di dada. Lebih dari itu, aku menyesal, begitu menyesal. Kenapa aku begitu terlambat membuat keinginan yang kubangun sejak 9 tahun ini menjadi nyata. Kenapa?
Aku membodoh-bodohi diriku sendiri karena terlalu lama dalam beraksi. Jika aku cinta, harusnya aku lebih berani dari siapapun. Jika aku cinta, harusnya aku tak menunggu lama. Dan jika ini gagal, harusnya aku tak sesedih ini, aku tak sehancur ini. Tapi kenapa?
Perasaan yang tak karu-karuan itu aku larikan hingga sore ini. Jalanan di sekitar kampus masih kususuri sembari mengingat kegagalan melamar Maryam Syakila.
“Andai pesonamu hanya sesederhana bunga jalanan…
Maka mungkin sedari dulu telah kulupa…
Tapi pesonamu adalah pesona edelweiss yang sulit tuk kugapai dan kupetik tangkainya.
Pesonamu adalah pesona menggetarkan yang terpancar dari kecintaanmu pada Allah bersama orang-orang yang mencintai-Nya.
Jika sebegitu kuat pesonamu menarikku, apa lagi yang harus kukata jika memang padamu, segala cinta ini telah terenggut?”
Aku menangis lagi, mengingat puisi sederhana itu kutulis beberapa saat setelah menerima email dari Zahra. Sungguh ini begitu berat terasa. Aku sungguh idiot, sungguh tolol, bagaimana bisa aku mengingatnya dalam ingatannya yang begitu sulit untuk kulupa.
“Jika GAGAL, maka lupakan…”
Teringat nasihat dari seorang sahabatku. Aku harusnya mampu melupakannya. Melupakan Maryam Syakila dalam setiap sisi hatiku.
Lagi-lagi kukuatkan diriku agar mampu melewatinya. Keringatku mulai bercucuran ketika mendekati gedung Fakultas Teknik, menuju labku. “aku harus tenang… Sabar…” Kucoba menguatkan hatiku walau pikiranku masih kalut.
***
Sejak ba’da Isya tadi, aku sudah rebahan. Sepertinya tubuhku lelah karena menangis. Sebeginikah parahkah? Aku bahkan tak mampu memikirkan sebelumnya kalau efeknya akan begitu hebatnya. Mataku baru terpejam beberapa jam kemudian.
Samar-samar aku terbangun, di kamar kos-kosanku yang sederhana. Lampu masih kumatikan semenjak istirahat tadi, gelap di sekeliling ruangan. Kuhidupkan handphone-ku melihat jika ada pesan penting yang masuk sekalian melirik jam berapa sekarang. Sudah 04.00 dini hari rupanya. Aku tertidur cukup lama.
Kubuka selimut yang menghangatkan tidurku sejak semalam, kemudian menuju kamar mandi dan mengambil wudhu. Apalagi kini yang tersisa, selain Allah sebagai zat terbaik untuk mengadu?
4 raka’at awal kulewati dengan luruh air mata yang tak terbendung.
“Allah…
Beginikah jadinya jika aku berani bermain hati? Beginikah jadinya jika aku menyisihkan cinta-Mu yang agung dan begitu purna? Beginikah akibatnya?
Ampuni aku, dalam khilafku akibat salah di masa lalu. Beri aku waktu untuk menyembuhkan segala kotoran di hati ini agar yang ada hanya KAMU ya Rabb…”
Doa it uterus ku ulang-ulang.
Memasuki Rakaat ke-6 Tahajjudku. Air mataku semakin tak tertahankan.
“Apa lagi Rangga… Apa lagi yang mau kau katakan kepada Allah? Bentuk protes apa lagi yang hendak kau kirimkan kepada-Nya jika Allah telah memberi segalanya. Allah telah memudahkan studi S1-mu, meski tanpa biaya orang tua, Allah memudahkan jalanmu untuk meraih prestasi membanggakan selama studimu. Allah mudahkan hidupmu dengan pertemuan bersama orang-orang shalih yang menenangkan dan penuh nasihat, Allah mencelupkanmu dalam balutan kasih saying-Nya untuk senantiasa mengingat-Nya, Allah memberimu nikmat yang tak terhitung jumlahnya.
Lalu kini? Jika hanya seorang Maryam Syakila yang tak bisa kau miliki. Haruskah kau hentikan rasa syukurmu? Haruskah kau habiskan harimu dengan sederetan pelarian dari jalan Allah sebagai bentuk betapa kecewanya dirimu kepada Allah? Haruskah Rangga? Haruskah… Sedang mencintai Allah itu membahagiakan… Memiliki Allah itu adalah kenikmatan yang tiada duanya.
Makhluk-Nya? Mengharap mereka adalah sebuah kebodohan, mencintai mereka dengan penuh seluruh adalah kejahiliyahan. Apa lagi Rangga? Apalagi yang tersisa selain ini adalah akibat dari kesalahanmu memelihara rasa. Jika berani, seharusnya sedari dulu kamu mulai berusaha untuk memilikinya dalam balutan ikatan suci yang indah. Tapi jika tak sanggup, seharusnya kamu TEGAS dengan hatimu. TEGAS dengan rasamu. Jika ia bukan untuk cinta yang halal, maka takkan kurasakan. Seharusnya begitu Rangga… seharusnya begitu”
Aku semakin tergugu hingga di akhir witirku. Tubuhku bergetar hebat. Rasa malu begitu terasa di dalam jiwaku. Sungguh betapa hinanya aku menangisi seorang Maryam Syakila hanya karena sebuah penolakan dan keadaan yang sebenarnya begitu sederhana saja. Tidak seharusnya aku larut dalam kesedihan yang sebagian besar karena ulahku. Kenapa aku sebegini terlukanya, sedang Allah telah menyediakan begitu banyak hikmah dan nikmat yang ada di tiap lembar hariku. Kenapa aku se sedih ini sedang Allah telah banyak memberiku kesempatan untuk melejit, melangkah, dan berbuat banyak hal untuk dunia. Ahh… aku kalah, kalah dengan godaan syetan yang memabukkan rasa di dalam dada.
Kukuatkan diriku ketika muhasabahku terhenti dengan lantunan azan subuh di Masjid dekat kos-kosanku.
“Aku harus memulai hariku yang baru… Penuh semangat… Penuh Antusias… Aku harus menghapus semua kenangan tentang Maryam… sekecil apapun aku harus menghapusnya…” Sahutku.
Subuh itu. Adalah subuh penghambaan penuh kekhusyuan yang pernah kurasa dalam hidupku.
“Allah… Jika dia memang bukan yang terbaik bagiku… Maka gantikanlah yang lebih darinya… Shalihkan diriku hingga aku mampu memiliki seorang permata jiwa yang juga seshalih diriku. Sempurnakan agamaku dengan seseorang yang akan kucintai sepenuh jiwaku Dan akan kujadikan ia sebagai belahan hati terindah di dunia. Namun jagalah agar hati ini selalu ada KAMU ya Rabb… hanya ada KAMU… bukan yang lain…”
Kuseka air mataku yang masih mengalir di ujung doa ku subuh ini. Mencoba menguati hati agar mampu melangkah.
“Jika tak hari ini, maka aku akan kalah selamanya…”


sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/17889/beginikah-cinta/#ixzz1ofkMy2GJ
0

Kasiyat Ariyat

Ini tentang aku, kamu dan cinta kita.
Jujur, aku mencintaimu pada pandangan pertama. Kata orang, “Pandangan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda.” Hahaha. Kalimat itu tidak berlaku untukku. Faktanya, aku hanya diam. Ya, aku mencintaimu dalam diam. Kata orang itu bodoh. Tapi biarlah, karena aku punya cara sendiri untuk mencintaimu, yaitu dengan diam.
Mungkin, atau barangkali pasti, kau melupakan awal perjumpaan kita. Jika itu yang terjadi, tidak denganku. Aku sangat ingat awal pertemuan itu. Kau ingin aku mengungkapnya? Agar kau ingat? Baiklah.
Kala itu pagi masih buta. Aku baru saja menyelesaikan tugasku: Mengayuh sepeda senja sejauh 10 kilometer dari rumahku di ujung kampung menuju SMA baruku di pusat kota. Ketika aku baru saja ngaso, kau datang dengan pesona keshalihanmu. Ketika itu, kau bersama seorang lelaki. Belakangan kutahu, bahwa lelaki itu adalah calon mertuaku. Hahaha. Maaf, aku bercanda. Sudahkah kau ingat? Atau ingin kuceritakan lebih lanjut?
Kala itu senin. Awal masa orientasi di sekolah tempat kita akan bersaing dan memadu cinta. Ah, maaf lagi. Kali ini aku benar- benar aneh. Dan, biarkan keanehan itu. Sabtu sebelumnya, kau tidak masuk. Kau sedang berada di luar kota, itu berdasarkan keterangan yang kau sampaikan. Karena kau tidak tahu apa-apa, aku yang baru kau temui pagi itu, langsung diberondong dengan aneka warna pertanyaan. Jujur, aku sangat menyukai renyahnya suaramu. Jika krupuk, mungkin bisa langsung kumakan. Sayangnya, senin itu, aku sedang berpuasa.
Lalu, bak mitraliur, atau wartawan yang menemukan nara sumber, kau membrondongku dengan pertanyaan-pertanyaan seputar masa orientasi siswa yang akan berlangsung selama tiga hari. Sungguh! Ketika itu, pertanyaan yang kau sampaikan langsung kusimpan dalam hatiku. Pertanyaan yang kau sampaikan benar-benar menyentuh hatiku. Jika tidak berlebihan, aku ingin menyampaikan, ‘Kaulah gadis pertama yang ada dalam hidupku.”
Kau sudah ingat? Kalau sudah, biarkan aku melanjutkan kisah.
Oh ya, maaf! Aku belum menceritakan pertanyaan yang kau lontarkan itu. Pertanyaanmu sangat sederhana. Kira-kira seperti ini, “Mas, disuruh bawa apalagi? Perlengkapan apa saja yang harus kusiapkan?” dan seterusnya. Padahal, aku berharap kau bertanya seperti ini, “Mas, namamu siapa? Rumahmu mana? Maukah kau menjadi pacarku?” Dan, pertanyaan cinta lainnya. Tapi biarlah. Aku kemudian menjawab semua soal yang kau berikan, “Disuruh bawa air mineral 60ml tapi tidak boleh ada merk-nya. Papan nama dengan karton yang ditaruh di meja ukuran 20×30 cm, yang digantung di leher ukuran 10 x 30 cm. Oh ya, harus bawa roti. Kemudian topi dari ceting (tempat nasi bagi orang jawa), tas kresek ukuran 5kg. Sudah.” Kala itu, kau mengangguk manis, dengan melempar senyum kau berucap syahdu, “Terima kasih ya Mas.” Sayangnya, yang kudengar lain, “Terima kasih ya Mas. I Love You.”
Kau kemudian pergi dengan lelaki kekar yang menemanimu itu. Aku benar-benar berharap agar ia kelak menjadi mertuaku. Atau, aku menjadi menantunya.
Waktu kemudian memperjalankan kita. Tiga hari kemudian, aku terperanjak ketika melihat namamu bersanding dengan namaku dalam kelas yang sama. Ketika melihat fakta itu, aku tersenyum tipis, sangat manis, sambil berucap lirih,” Nampaknya, Allah memang menakdirkanmu untuk kumiliki.” Kesempatan ini, tidak mungkin kusia-siakan. Bersama denganmu adalah kesempatan emas bagiku untuk menebarkan umpan-umpan cintaku.
Sebelum dilanjutkan, aku ini berkata jujur. Lagi-lagi kukatakan, aku ingin jujur. Agar hatiku lega karena telah mengungkapkan ini.
Aku adalah lelaki berhati karang. Di SMP, banyak sekali gadis yang menaruh hatinya di hatiku. Tapi tak satu pun yang kutanggapi. Meski tidak berharta, jabatan ketua OSIS dan seabreg prestasi di tingkat sekolah, kecamatan dan kabupaten rasa-rasanya merupakan alasan yang logis mengapa banyak kaum hawa yang naksir kepadaku. Aku benar- benar tidak menanggapi rasa yang mereka lempar. Aku ingat sekali dengan pesan ustadzku di madrasah (Sekolah keagamaan), “Jika ingin berprestasi, jauhi wanita. Kau akan sukses.” Pesan itu benar- benar mantra ajaib yang senantiasa terkenang dalam pikir dan hatiku.
Namun, ketika bertemu denganmu, aku mendapati aura lain. Aura keshalihan yang mencerdaskan. Ini fakta yang kutangkap darimu. Fakta yang kemudian menjadi alasan logis mengapa aku berani mencintaimu.
Tinggimu sekitar 170 cm. Tinggi ideal sosok wanita yang ada dalam pikiranku. Tubuhmu semampai. Langsing dan enerjik. Wajahmu oval, bersih dan alami. Aku tahu persis bahwa dirimu tidak suka memakai make up layaknya teman-teman sebayamu. Kau begitu percaya diri dengan bedak tipis untuk menghalau debu.
Dari perkenalanmu kemarin, kutahu bahwa kau adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakakmu adalah sarjana teknik di Universitas Gajah Mada dan Universitas Indonesia. Kau menyelesaikan pendidikan menengah pertama di pesantren boarding school di bilangan Yogyakarta. Pantas saja, kau begitu lihai dalam hal agama. Ini adalah poin penting. Karena aku sangat menginginkan istri jebolan pesantren yang melek agama.
Otakmu juga encer. Kau pandai fisika, doyan matematika, dan sangat lahap ketika disuguhi kimia. Satu kelemahanmu: Bahasa Inggris. Bagiku, kelemahanmu adalah keuntungan bagiku. Karena aku adalah pakar bahasa inggris. Aku pernah menjuarai lomba bahasa inggris tingkat kabupaten ketika SMP. Aku pun akan dengan senang hati melayani konsultasimu di bidang bahasa. Dan sebaliknya, ketika aku tidak nafsu dengan kimia, aku bisa mendatangimu agar mengolah kimia menjadi menarik, setidaknya sesuai sajian yang kau berikan.
Satu lagi, aku sangat naksir dengan jilbab putih yang selalu kau kenakan. Jilbab itu, bagiku adalah kesejukan. Di tengah ketelanjangan teman-teman yang mengumbar aurat, kau begitu mempesona. Jilbabmu itu lebar, menutup pundak juga dadamu. Ah, aku benar- benar menangis kala mengingat ini. Jilbabmu benar-benar menawan hatiku.
Kukira, alasan-alasan yang kukemukakan sangatlah logis. Aku pun berani mengatakan, “Akan kutaklukkan hatimu, untuk hatiku.”
Waktu berlalu, hingga memasuki akhir semester pertama. Aku masih sama, mencintaimu dalam diam. Aku tidak berani menyatakan isi hatiku. Aku hanya memperhatikanmu dari kejauhan. Aku selalu menunduk saat kau memandangku. Aku selalu diam saat kau bicara. Dan ketika kau diam, aku ingin sekali berkata. Hanya tiga kata, “Aku Cinta Padamu.” Sayangnya, aku tak cukup jantan. Ketika berniat, ketika itu pula aku terdiam. Lidahku seakan tertahan. Kerongkonganku seakan terhenti. Pita suaraku pun menjadi layu. Iya, semua terjadi karena pesona keshalihanmu yang menawan hatiku satu-satunya.
Tibalah pada suatu masa, ketika liburan akhir semester satu. Siang itu, aku sibuk bersama ibu di kebun melati milik tetangga. Aku menjual tenagaku sebagai pekerja pencabut rumput. Ketika aku baru menyelesaikan satu baris, adik keempatku mendatangiku dengan tergopoh. Ia seperti di kejar maling. Tapi aneh, ia datang sambil tersenyum.
Dari jarak tiga meter, ia berteriak, “Mas, pulang! Ada tamu. Dua orang wanita cantik berjilbab. Naik motor. Katanya temannya Mamas.” Ibu hanya member isyarat, tanpa kata, agar aku segera pulang. Di tengah perjalanan, adikku itu berbisik menggoda, “Pacarnya Mamas ya?” Serta merta pipiku merah dan menyembunyikannya dengan menggertak adikku, “Hush! Ngawur aja.” Dia segera berlari sebelum kujewer.
Setibanya di rumah, aku masuk lewat pintu belakang. Sambil ganti baju aku mengintip. Dari hasil intipanku, kulihat wajahmu. Ya. Aku tidak menyangka bahwa kau datang ke rumahku. Aku juga baru ingat kalau hari itu adalah ulang tahunku yang ke tujuh belas. Eh maaf. Maksudku gubukku, bukan rumahku. Dari intipanku itu pula kulihat tiga sosok temanmu. Dua dari kelas kita, sedangkan satunya seorang lelaki tampan dari kelas sebelah. Kukira, itu adalah pacarmu.
Setelah mengenakan pakaian yang layak, aku menemui kalian. Sedikit basa basi aku lontarkan, demikian juga dengan ceritaku bahwa aku baru saja dari kebun. Sekitar lima menit kalian bercerita, aku hanya mendengarkan sembari mengeluarkan sajian ‘cinta’ ala kadarnya, teh manis dan makanan ringan. Dari perbincangan itu, kuketahui bahwa lelaki itu adalah pacarmu.
Sebenarnya aku bersedih, aku ingin menangis, karena aku tidak berani menyatakan isi hatiku. Kukira, ketika aku bicara padamu, kau akan menerimaku apa adanya. Karena pacarmu itu tidak jauh beda denganku. Bahkan, aku yakin bahwa aku lebih darinya. Lebih pandai dan lebih tampan. Sayangnya, aku tak lebih kaya. Ia bisa memboncengkanmu dengan motor keluaran terbaru sedangkan aku hanya mengayuh sepeda ontel menuju kampus kita yang jaraknya sepuluh kilometer.
Sebelum pulang, kau memberikanku sebuah kado: jam cantik berbentuk Ka’bah. Ah, melihat kado darimu itu, aku langsung berimajinasi, “Andai kau terima cintaku, kita pasti akan berhaji bersama sebagai suami-istri.”
Nampaknya itu hanya mimpi. Kedatangan diri dan pacarmu hari itu, sungguh membuatku patah arang. Aku masih mencintaimu. Tapi aku tetap tak berani untuk sekedar menyatakannya. Anehnya, rasa itu masih saja bertengger di hatiku. Aku, sesungguhnya, masih berharap akan datangnya cintamu.
Memasuki semester kedua, prestasiku semakin menggila. Ditambah bintangku yang semakin cemerlang ketika terpilih menjadi wakil ketua OSIS. Padahal aku baru saja kelas satu. Aku berhasil mengalahkan kandidat lain yang lebih senior. Belum lagi ketika aku mulai menapakkan kaki di tingkat kabupaten. Mengikuti ajang siswa teladan, kemudian menempati posisi keempat. Prestasi yang cukup membuat teman-teman iri. Apalagi dengan terpilihnya aku sebagai penerima beasiswa bakat dan prestasi. Meski sibuk dengan segudang aktivitas, sedetik pun aku tak pernah melupakanmu di hatiku.
Kulihat, kau makin mesra dengan pacarmu. Hampir setiap hari aku mendapati kalian berdua. Di kelas, di kantin, ke masjid, di perpus dan seterusnya. Bahkan, pernah kudapati kalian berboncengan ketika pulang dan pergi sekolah. Aku cemburu. Aku marah. Tapi, Aku Siapa? Ah, lupakan saja kawan.
Akhir semester dua, perpisahanku denganmu semakin jelas. Meski sejak awal, kita juga tidak pernah mengikat hati untuk bersatu. Apalagi dengan dipisahnya kita di kelas yang berbeda. Aku di IPA 2 sedangkan kau masuk ke IPA 5. Anehnya, di tahun itu aku melihat kau mulai tak rukun dengan pacarmu yang pertama itu. Kalian sudah mulai mengatur jarak. Pikirku, ini adalah kesempatan bagiku untuk mendekatimu dan merebutmu untuk benar-benar kutaruh di hatiku. Sayangnya, lagi-lagi aku tak cukup berani untuk sekedar memberikan surat yang telah kutulis sejak enam bulan yang lalu.
Tahun kedua, aku malah naik jabatan. Menjadi ketua OSIS. Semakin sibuk di Rohis, Kepanduan, PMR juga organisasi siswa lainnya. Nyaris saja, waktuku habis untuk kegiatan. Dalam taraf ini, aku benar-benar mengacuhkanmu. Meski ketika kulihat hatiku, namamu masih setia di sana. Ya, keshalihanmu benar-benar membuatku tertawan. Semester keempat, aku berhasil meraih juara satu lomba siswa teladan tingkat kabupaten. Prestasi itu sesungguhnya kupersembahkan untukmu. Sayangnya, kau tidak pernah tahu. Bahkan untuk sekedar mengucapkan selamat pun, kau tak lakukan itu. Herannya, ketika aku ulang tahun yang ke dua puluh, kau tetap mengirimku kado. Kali ini lebih misterius, tanpa identitas apapun. Kau memang pandai mengejutkan.
Pada tahun itu pula, aku melihatmu mulai menggandeng lelaki lain. Kali ini orang yang kau pilih dari jurusan IPS. Tampangnya tajir, motornya keren, orangnya juga atletis. Salah satu atlet di sekolah kita. Ia pandai main bola, bulu tangkis dan olahraga lainnya. Makin hari, kulihat kalian makin mesra saja. Ternyata, kau suka gonta ganti pasangan.
Bagiku, itu tak masalah. Karena yakinku penuh, wanita tergantung siapa lelakinya. Jika kau menjadi pacarku, kuyakin kau akan menjadi lebih shalihah, dibanding sekarang. Sayangnya, lagi-lagi kukatakan, aku tak berani untuk sekedar mengatakan, “Aku mencintaimu.”
Singkat cerita, kita berhasil lulus dengan gemilang. Angkatan kami mengukir prestasi sempurna. Lulus seratus persen dan tercatat sebagai peringkat kedua tingkat kabupaten. Dengan senyum kemenangan, kepala sekolah melepas kami, dengan bangganya.
Lulus merupakan kesuksesan. Tapi, ketika melihat kau bergandengan tangan dengan pacarmu, aku malah merasa gagal. Gagal mengakui apa yang kurasa. Tiga tahun mencintaimu, selam itu pula aku tak berani untuk sekedar mengungkapkan isi hati. Bahkan surat yang sudah kusiapkan tak berani kuserahkan kepadamu. Ya, aku lulus. Tapi aku gagal.
Dari temanmu, kutahu bahwa kau memilih untuk kuliah di kota Apel, Malang. Aku yang dituntut oleh keluarga untuk membantu adik, harus memilih peran sebagai kuli. Ibu kota adalah yang kupilih untuk melabuhkan cita-cita. Di sana, aku diterima menjadi karyawan pabrik di kawasan Jakarta Pusat. Tepatnya di daerah Sunter.
Dua tahun berlalu. Aku masih sering melihat dirimu dalam imajiku. Bahkan, senyummu seringkali bertabrakan dengan senyumku ketika aku sendirian. Renyah tawamu masih terdengar ketika malam mulai merayap dalam hening. Jilbab putihmu itu, seakan berkibar terus dalam pandanganku. Fisikmu memang jauh, tapi hatiku serasa dekat sekali dengan sosokmu. Oh ya, ketika sesekali kulihat hatiku, namamu masih saja berada di sana. Ia dengan enjoy bermain-main di dalamnya. Bahkan, kulihat sesekali kau menyatukan hatimu, dengan hatiku.
Tak ada sedikit pun informasi yang kuterima tentang dirimu dalam kurun tiga tahun itu. Meski demikian, aku berani mengatakan, kau masih ada di hatiku. Mungkin, inilah cinta pertama. Ah, tapi apapula perlunya membahas cinta pertama? Haha
Sampai akhirnya, pada sebuah ruang maya, aku menemukan sosok yang mirip denganmu. Nama dan wajahmu persis. Karena penasaran, aku pun meng-klik akun atas namamu. Awalnya, aku ragu. Takut kalau itu bukan dirimu. Kemudian dengan keberanian yang kupaksakan, aku benar-benar mengajakmu berteman. Tak berapa lama, kau menyetujui permintaan pertemananku. Dari sinilah, cinta yang telah lama kupupuk itu, menguap begitu saja. Hilang tak berbekas.
Sore itu, sepulang kerja. Aku sangat penasaran dengan sosokmu yang baru itu. Aku pun memberanikan diri untuk membongkar akun atas nama dirimu itu. Yang kutuju pertama kali adalah kumpulan fotomu. Ada foto profil dan foto dinding. Ketika semua gambar ku-klik, aku terperanjat bukan kepalang. Istighfar sejadi-jadinya. Perutku mual, ada rasa jijik. Aku sungguh tidak menyangka bahwa akun itu benar milikmu.
Tampilanmu kini, sudah sangat berbeda. Jilbab putih itu sudah kau lepas. Rambut panjang itu, sudah kau potong seperti lelaki. Rok rapi itu, kau permak. Tingginya sekitar lima sentimeter dari lutut. Artinya, (maaf) pahamu terbuka. Siapa pun bisa menikmati untuk memandangnya. Gamis panjang dan kemeja yang dulu melekat di tubuh rampingmu, kini kau ganti dengan kaos kekecilan sehingga nampaklah lekuk tubuhmu. Yang paling mengherankan, ada foto-fotomu dengan pose sangat terbuka di sebuah pantai. Di sana kau senyum-senyum di depan kamera. Mempertontonkan indahnya tubuhmu. Meski masih berbusana, Hadits menyebutmu dengan, Kasiyat Ariyat, Berpakaian tapi Telanjang. Na’udzubillah. Aku, sungguh tidak mengira. Bahwa kau adalah yang kucinta.
Dalam lirih, aku hanya berdoa, semoga Allah kembali memberimu hidayah. Selamat tinggal cinta…


sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/18280/kasiyat-ariyat/#ixzz1ofijbq9A
0

i'm proud of you guys... part 1


"SMA = masa yang paling indah"....
menurut gue pendapat itu ga sepenuhnya salah dan ga sepenuhnya bener sih.. karena persahabatan yang paling indah gue rasain..

hari ini, kemarin, bahkan dari 1 tahun yang lalu
persahabatan kami terjalin *berharap selamanya*. Mulai dari galau masalah abege, tugas ulangan, sampai surprise-surprise kecil2an yang kita buat dan mungkin (maaf) ga berkesan.

Dari mulai kelas 11, kita udah sering bareng, walaupun ga deket. Sampai akhirnya kita naik ke kelas 12. Disinilah puncaknyaa.....

moment2 penting itu :

1. Pensi


panas panasan bareng, sampe pegel pegel pun bareng (y) :D

2. ulangtahunkuuu

"maaf cuma bertiga, yg lain ga ikut foto"


hari selasa 22 November 2011. Hari yang paling sial (awalnya). Tapi pada akhirnya gue tau kalo hari itu adalah hari terindah dalam hidup gue.

3. jalan jalan ke IPB

"1 orang lagi yg fotoin"

sebenernya masih banyaaaak banget cerita cerita lain yang berkesan. tapi capek loh buat share nya hehe :D Insyaallah kalo ada waktu pasti saya share lagi. bye guys :)
0

AYAH


Lirik Lagu Seventeen Ayah Lyrics

engkaulah nafasku
yang menjaga di dalam hidupku
kau ajarkan aku menjadi yang terbaik
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
* kau tak pernah lelah
sebagai penopang dalam hidupku
kau berikan aku semua yang terindah

reff:
aku hanya memanggilmu ayah
di saat ku kehilangan arah
aku hanya mengingatmu ayah
jika aku tlah jauh darimu

repeat *
repeat reff [3x]



0

TEMANKU atau BAYANGANKU?

Kamu buakn bayanganku. Dan aku pun bukan seorang yang harus kamu bayangi terus. Bayangan yang terus menerus mengikutiku kemanapun ku pergi. Mungkin kadangkala aku membutuhkan bayanganku sendiri, tapi itu bukan kamu. Kamu adalah temanku. Teman jelas sangat berbeda dengan bayangan. Kita punya kehidupan masing2 yang harus kita jalani masing2 juga. Kita tidak bisa terus mengikuti setiap yang dilakukan teman kita. Karena kita TEMAN bukan BAYANGAN yang harus selalu mengikuti.
Aku lelah terus diikuti. AKu punya kehidupanku sendiri yang tak perlu kamu tau. Dan kamu pun begitu. Walaupun kita teman, kita tetap memiliki batas kebersamaan. Ada kalanya aku tak bisa terus bersamamu. Aku ingin sendiri. Aku ingin bersama keluargaku, atau aku ingin bersama dengan teman2ku yang lain. Aku butuh itu. Semua yang aku lakukan adalah untuk kehidupanku, bukan untuk dilaporkan padamu, sehingga kamu bisa ikuti apa yang aku lakukan. Kita memiliki kapasitas dan kemampuan yang berbeda. Aku tak bisa melakukan setiap detail yang kau lakukan karena aku tak mampu, begitu pun kamu. Jadi, pleaseeee........ jangan seperti ini terus. Aku memang tidak bisa mengatakannya padamu. Karena apa? karena aku tak ingin menyakitimu dengan kata2 sesaatku. Ak menjaga perasaanmu. Dan aku juga mohon padamu jagalah perasaan, dan jagalah privacy ku.
0

SIBUK SIBUK SIBUK

SIBUK SIBUK SIBUK.
kata kata yang menggambarkan keadaan saya saat ini. sibuk jalan2. tapi ga sekedar jalan2 aja loh. jalan2 yang bermanfaat untuk masa depan (y) :D
ga cuma jalan2 doang loh, otak juga udah penuh sama rumus2 yang seakan melayang-layang dikepala, tinggal nunggu pada ilang satu2 aja nih.haha
ini semua bikin saya stress dengan keadaan ini. buku buku dan bukulagi yang saya temui di hari2ku. Bosen? pasti laaah, tapi mau gimana lagi? ini udah konsekuensi seorang anak kelas XII SMA yang lagi belajar membiasakan diri untuk meninggalkan masa remajanya dan menyambut masa dewasanya. Nah itu dia, sepertinya saya belum siap untuk menyambut masa dewasa saya. Dan saya juga gatau harus gimana agar saya bisa sap. Mungkin hanya waktu yang bisa menjawab pertanyaan saya ini .
Keep smile Keep spirit Keep mood, and Keep anything ya :D
0

Muhasabah Cinta

Munsyid : EdCoustic


Wahai... Pemilik nyawaku
Betapa lemah diriku ini
Berat ujian dariMu
Kupasrahkan semua padaMu

Tuhan... Baru ku sadar
Indah nikmat sehat itu
Tak pandai aku bersyukur
Kini kuharapkan cintaMu

Reff. :
Kata-kata cinta terucap indah
Mengalun berzikir di kidung doaku
Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku
Butir-butir cinta air mataku
Teringat semua yang Kau beri untukku
Ampuni khilaf dan salah selama ini
Ya ilahi....
Muhasabah cintaku...

Tuhan... Kuatkan aku
Lindungiku dari putus asa
Jika ku harus mati
Pertemukan aku denganMu
0

curcol yah :p

Assalamu'alaikum...

ini udah lebih dari lama saya ga posting di blog tercinta ini. hahaa :D

kangen bgtbgtbgt lhooo sebeneranya. tapi mau gimana lagi, udah kelas XII meeeen.. ga bisa nyantai nyantai lagi. *miris

okey, sebenernya sekarang ini saya lagi ngerjain tugas, but, saya mencuri waktu untuk sekedar posting di blog tercinta ini. Banyak banget hal hal yang amaze, tapi saya pun bingung bagaimana menjelaskannya, haha.

saya hanya mau bilang saya GALAU JURUSAN dengan nilai yang telah saya miliki selama 3 tahun bersekolah di SMA :( hiks

SMA, kelas XII pula. Masa masa yang bikin tiap hari galau tiada henti, capek tiada akhir, dan bosan yang berkepanjangan *lebay. :D penat sebenarnya dengan hari hari selama kelas XII ini, pulang kalo ga sore, pasti malem. Selalu always ketemu soal soal yang bikin otak ga bisa nyantee. Huff banget (kata AP – pemred).

Tapi setiap bosen, capek, dan galau melanda, saya selalu kembali ke tujuan utama saya setelah SMA. Saya punya cita cita yang cukup tinggi, jika saya tidak bisa besabar dan mengendalikan diri, saya tidak akan bisa menggapai cita cita saya. So, GANBATTE . kata kata yang selalu saya tanamkan dalam hati saya sejak dini. Kalo kata peribahasa, Apa yang kita tanam, itu pula yang akan kita panen. Jadi kalo sekarang saya bersusah payah belajar diantara gegap gempita nya kehidupan remaja saat ini *hening.

Eeeeeeeeh, udah dulu deh curcol nya.. ntar kalo sempet saya posting posting lagi dengan curhatan curhatan yang ga penting lagi yups hehe :D

0

LAUGALAUGALAU

Assalamu'alaikum
hey hey jumpa lagi dengan saya "amp" °\​(Λ†▿Λ†)​/​​°

sudah berapa lama kita tidak berjumpaaaa? heeeeemmm, sepertinya sudah lama bangetbangetan yaaah hehe
yasudahlah yaaa, yang lalu biarlah berlalu yang penting sekarang kita bertemu lagi yuhuuuu~


"duuuuh galau nich". ada yang tau itu kalimat apa? ya itu salah satu cuplikan kalimat eksp**as* my class. *brb ngebayangin.
oke tapi sekarang aku emang lagi galau nih. tapi pi pi piiii, bukan karena cowok atau makhluk sejenis cowok yaaa, ga jaman laah galau karena itu #eh hehe ^^v
aku galau karena sekarang udah kelas 3 SMA (woooow) dan mulai saat ini juga aku udah harus memikirkan ingin melanjutkan kuliah dimana? jurusan apa?.
sebenernya sih aku udah tau jurusan dan tempatnya. but (sok inggris dikit), aku bermasalah di nilai.
jurusan yang ku pilih memerlukan nilai yang cukup tinggi. belum lagi masalah nilaiku yang naik turun bagaikan gelombang yang memiliki lamda 4 cm. (efek baru selesai ulangan FISIKA).
LAUGALAUGALAU..

tapi pokoknya aku harus bisa dapetin jurusan itu. karena tekatku udah bulet ga pake lonjong lagi. jadi aku harus berusaha biar bisa masuk ke jurusan itu lahyaaa :)
ganbatte ne! °\​(Λ†▿Λ†)​/​​°

Wassalamu'alaikum ..
0

cuhaaaat

saya seriiiing sekali menasihati teman teman saya agar mereka tidak terperangkap dalam satu masalah yang mereka pun tak mengerti bagaimana jalan keluarnya.
namun mengapa saya sendiri justru terperangkap dan terbelit dalam masalah yang tak bisa saya selesaikan sendiri.
rasanya senang sekali lho kalau bisa menceritakan semua masalah yang kuhadapi dan meminta jalan keluar yang terbaik dari masalah ini. tapiiiiiiii.......... saya tetap tidak bisa menceritakannya.
masalah masalah ini hanya tertumpuk dalam hati saya. tanpa ada yang tau kapan tumpukan itu akan berkurang.
saya hanya berani menceritakan semua masalah saya kepada Allah Yang Maha Mengetahui. Walaupun Ia tak merespon secara langsung seperti ketika kita menceritakan masalah kepada orang lain. namun Ia dapat membuat hati menjadi lebih tenang, membuat seakan tumpukan masalah ini berkurang secara perlahan. Walaupun saya sendiri tak mengerti bagaimana Allah bisa membuat sedemikian rupa seperti itu. Hanya Allah lah yang tau.
0

CINTA

malam terasa begitu sunyi
namun tidak dengan pikiranku
pikiranku terasa begitu ramai
dengan adanya bayangan tentangmu

ramai akan canda tawa
yang pernah kita lakukan
kenangan indah
yang tak akan pernah bisa ku lupakan

ya Allah Sang Pemilik rasa ini
jagalah hati ini hanya untukMu
jangan biarkan seorangpun
yang mampu melewati benteng hati ini

ya Allah Sang Pemberi rasa ini
berikanlah rasa ini hanya untuk pemilikNya
jangan biarkan seorangpun mengambilnya
dan jangan biarkan aku memberikannya

hanya untaian doa kecil
yang dapat kusampaikan padaMu
ya Rabb Sang Pemilik dan Pemberi rasa CINTA ini
0

Rindu Ramadhan

Bulan Ramadhan ketika disebut
Kami teringat sebuah taman bunga
Yang semerbak wangi tempat persinggahan
kebaikan mengandung hikmah

Bulan Ramadhan syahdu menaungi
Hati gembira semesta merah merona 2x

Bulan Ramadhan di dalammu ada
Dua kebahagiaan yang 'kan kita temui
Ketika berbuka ketika bertemu
Dengan Allah Yang Maha Mulia

Bulan Ramadhan mari mujahadah
Di dalam jiwa tancapkan kemauan2x

Reff:
Kupegang Ramadhan kali ini
Barangkali esok aku sudah tiada
Keras kugenggam dengan geraham
Semoga bahagia saat menemui Allah

Back to Top