Aku berlari dengan nafas memburu. Otakku seakan berhenti berpikir, dada sesak, penuh, semua sesal dan sedih berkecamuk jadi satu. Kususuri jalanan kampus yang masih sedikit basah karena hujan kemarin malam. Aku benar-benar kalut. Bingung. Pikiranku mulai bergumam sendiri dengan batinku.
“Beginikah jadinya? Beginikah rasanya mengakhirkan harapan?
Beginikah rasanya menghentikan cinta yang sudah terlanjur dalam?
Aku harus berkata apa? Bertanya pada siapa?”
Jalanan ini tentu saja takkan memberi jawab. Sore menuju senja yang selalu indah ini tentu saja takkan menenangkanku. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain kekalutan yang luar biasa menghinggapi dada.
“Haruskah melepasmu cinta? Melepas segala rasa yang tumbuh subur merekah hingga kini dan entah kapan berakhirnya?
Haruskah ku bunga jauh-jauh penggal harap yang entah kenapa masih membuatku sesak ketika kutahu aku tak bisa memilikimu cinta?
Haruskah aku membalikkan semua waktu agar perasaan ini tidak pernah ada di dalam diri? Atau setidaknya…
Ahh… Allah… mungkinkah kau izinkan aku mengembalikan kekosongan jiwa agar yang terisi hanya KAMU? Hanya KAMU ya Rabb… Hanya KAMU… hanya KAMU yang kucinta. Mungkinkah ya Rabb?”
Dadaku semakin sesak. Air mata lagi-lagi dengan tak sopannya keluar tanpa pernah mau kuperintahkan. Aku laki-laki, dan kini aku menangis.
“Aku benci dengan perasaan ini. Benci dengan keadaan ini.
Aku sadar aku harus bangkit. Tak boleh lemah hanya karena kehilangan kesempatan merealisasikan harapku.
Aku tak boleh kalah, hanya karena imaji yang sedari dulu kubangun akhirnya pergi dan menghilang tanpa bekas. Aku benci dengan semua perasaan yang telah porak-poranda ini. Aku harus bangkit. Tak boleh seperti ini.”
Kukuat-kuatkan hatiku agar tetap seperti dulu. Tenang dan segar. Namun percuma. Setiap larian kecilku mengelilingi kampus hijau ini, membuatku semakin tergugu. Pikiranku tak bisa untuk kuhentikan dalam mengingat sang permata jiwa. Semua kenangan seperti tergambar jelas di benakku. Kenangan tentangnya semua menyeruak tanpa tahu betapa aku sakit ketika mulai mengingatnya.
Cinta… atau entah apa namanya. Kenapa begitu mempengaruhiku hingga semua alam rasionalku pergi entah kenapa. Maryam Syakila, sosok itu. Yang mengisi penggal harapku hingga detik ini terus saja berkeliling di alam pikirku.
“Sedalam inikah perasaanku? Separah inikah aku tenggelam dalam cinta yang semu?
Jika memilikimu bukanlah takdirku, maka tolong berilah aku kesempatan untuk pergi darimu. Sejenak melupakan apapun tentangmu.
Aku ingin amnesia sejenak, tak pernah mengenal siapapun terutama kamu dari hidupku. Ini terlalu menghempaskan. Merebut semua rasaku.
Aku mati, mati rasa.
Dalam kekakuan, kebekuan, namamu masih saja ada. Harus ku kata apa, jika memang segalanya begitu dalam terasa? Harus kubilang apa cinta?”
Aku membodoh-bodohkan diriku sendiri setelah melewati lebih dari 3 kilometer. Berlari tanpa arah. Pikiranku tertuju kembali mengenang kisah usaha untuk melamar Maryam Syakila selama 2 pekan ini.
“Mohon maaf, apakah Zahra bisa membantuku mencari tahu perihal Maryam Syakila? Bukankah dia sahabatmu sejak SMA?” Sapaku kepada Zahra, sahabat dekat Maryam semenjak SMA. Setahuku mereka memang masih dekat hingga sama-sama melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia (UI). Kukirim email singkat ini kepadanya.
Jangan Tanya degupan jantungku saat itu. Aku begitu tegang tak terkira. Ini adalah momen yang sudah kutunggu sejak lama. Sudah 9 tahun, aku mengagumi sosok bernama Maryam Syakila. Dia sederhana, tak banyak bicara, namun cerdas dan mempesona. Apalagi yang mau kukata jika dia telah menjadi yang pertama dalam perasaanku, dan entah kapan lagi aku bisa mengakhirkan segala rasa ini. Perasaanku semakin dibuat tak karuan ketika mengetahui keshalihannya. Semenjak SMA, baju seragamnya yang panjang ditutupi dengan jilbab yang terurai indah sampai ke dadanya membuat jantungku semakin berdetak kencang setiap kali bertemu dengannya. Aku harus berkata apa, jika cinta telah merenggut habis semua perasaanku? Aku hendak menghentikan segalanya, namun segala tentangnya telah merebut habis setiap sisi hatiku. Aku juga hendak menghentikan segala pengaruh tentangnya, tapi apa lagi yang mampu ku buat, ketika penantian hamper 10 tahun ini, akhirnya datang juga. Ini kesempatan terbaikku untuk merealisasikan imaji, harap, dan doa yang sudah kusimpan erat sejak dulu. Aku harus melamarnya dan menjadikannya istimewa dalam nyata. Itu saja. Tak ada yang lain yang aku siapkan dan pikirkan selain merealisasikan segala rencana untuk menikah dengannya.
“Oh ya… Alhamdulillah saya masih sering berkomunikasi dengannya. Ada apa ya?” Zahra membalas emailku melalui YM yang kuhidupkan sejak tadi.
“Hmmm… Saya hendak menjalankan salah satu sunnah Rasul. Saya ingin tahu apakah Maryam Syakila sedang proses Ta’aruf atau telah di khitbah oleh seseorang? Jika tidak, saya ingin melamarnya…” Jawabku tanpa pikir panjang. Buatku ini melegakan.
“Oalah…” Jawab Zahra sedikit kaget.
“ :) ” Aku membalasnya dengan icon tersenyum, memahami kekagetannya.
“Baiklah Rangga. Tunggu aja ya kabarnya dalam 1-2 hari ini. Insya Allah akan saya beritahukan informasinya…” Tutup Zahra
Sudah 2 pekan ini, malam-malamku adalah malam-malam penghambaan penuh khusyu kepada Allah. Aku mengirimkan doa terindah kepada-Nya, berharap DIA berkenan mempertemukanku dengan Maryam. Berharap segala daya dan usaha yang kulakukan hingga saat ini diberkahi dengan sebuah momen terindah yang telah kupatrikan dalam do’a-do’aku selama 9 tahun ini. Aku hanya berharap memilikinya, itu saja.
Esoknya, aku menerima sms singkat dari Zahra yang memberitahukan info lengkap soal Maryam ada di inbox emailku.
Aku buru-buru membuka emailku berharap ada berita yang melapangkan jiwaku. Namun betapa kagetnya, ternyata isi email yang dikirimkan Zahra kepadaku sungguh berbeda dengan yang kukira.
“Mohon maaf Rangga… Saya sudah mengecek kondisi Maryam, terkait kesempatanmu untuk melamarnya. Saat ini, dia sudah di khitbah oleh seorang ikhwan dan Insya Allah akan melangsungkan akad dan walimahannya bulan Desember tahun ini…”
Hilang sudah… Pecah… Semua harapan itu sirna. Aku terlambat, sangat terlambat. Tubuhku bergetar seketika, hatiku tak bisa berkata apa-apa selain merasai kekalutan yang luar biasa. Aku terdiam, dan tak sadar, air mataku dengan sendirinya mengalir.
Habis sudah… kering… tak ada lagi harapan yang ku bangun bertahun-tahun. Aku memang lambat, aku memang bodoh, aku memang kerdil. Kenapa sedari dulu aku tidak memulai duluan untuk melamarnya? Kenapa dari dulu aku tidak berani merealisasikan segala macam perasaan ini agar mampu bersama dengannya? Kenapa?
Beribu pertanyaan berkecamuk di dada. Lebih dari itu, aku menyesal, begitu menyesal. Kenapa aku begitu terlambat membuat keinginan yang kubangun sejak 9 tahun ini menjadi nyata. Kenapa?
Aku membodoh-bodohi diriku sendiri karena terlalu lama dalam beraksi. Jika aku cinta, harusnya aku lebih berani dari siapapun. Jika aku cinta, harusnya aku tak menunggu lama. Dan jika ini gagal, harusnya aku tak sesedih ini, aku tak sehancur ini. Tapi kenapa?
Perasaan yang tak karu-karuan itu aku larikan hingga sore ini. Jalanan di sekitar kampus masih kususuri sembari mengingat kegagalan melamar Maryam Syakila.
“Andai pesonamu hanya sesederhana bunga jalanan…
Maka mungkin sedari dulu telah kulupa…
Tapi pesonamu adalah pesona edelweiss yang sulit tuk kugapai dan kupetik tangkainya.
Pesonamu adalah pesona menggetarkan yang terpancar dari kecintaanmu pada Allah bersama orang-orang yang mencintai-Nya.
Jika sebegitu kuat pesonamu menarikku, apa lagi yang harus kukata jika memang padamu, segala cinta ini telah terenggut?”
Aku menangis lagi, mengingat puisi sederhana itu kutulis beberapa saat setelah menerima email dari Zahra. Sungguh ini begitu berat terasa. Aku sungguh idiot, sungguh tolol, bagaimana bisa aku mengingatnya dalam ingatannya yang begitu sulit untuk kulupa.
“Jika GAGAL, maka lupakan…”
Teringat nasihat dari seorang sahabatku. Aku harusnya mampu melupakannya. Melupakan Maryam Syakila dalam setiap sisi hatiku.
Lagi-lagi kukuatkan diriku agar mampu melewatinya. Keringatku mulai bercucuran ketika mendekati gedung Fakultas Teknik, menuju labku. “aku harus tenang… Sabar…” Kucoba menguatkan hatiku walau pikiranku masih kalut.
***
Sejak ba’da Isya tadi, aku sudah rebahan. Sepertinya tubuhku lelah karena menangis. Sebeginikah parahkah? Aku bahkan tak mampu memikirkan sebelumnya kalau efeknya akan begitu hebatnya. Mataku baru terpejam beberapa jam kemudian.
Samar-samar aku terbangun, di kamar kos-kosanku yang sederhana. Lampu masih kumatikan semenjak istirahat tadi, gelap di sekeliling ruangan. Kuhidupkan handphone-ku melihat jika ada pesan penting yang masuk sekalian melirik jam berapa sekarang. Sudah 04.00 dini hari rupanya. Aku tertidur cukup lama.
Kubuka selimut yang menghangatkan tidurku sejak semalam, kemudian menuju kamar mandi dan mengambil wudhu. Apalagi kini yang tersisa, selain Allah sebagai zat terbaik untuk mengadu?
4 raka’at awal kulewati dengan luruh air mata yang tak terbendung.
“Allah…
Beginikah jadinya jika aku berani bermain hati? Beginikah jadinya jika aku menyisihkan cinta-Mu yang agung dan begitu purna? Beginikah akibatnya?
Ampuni aku, dalam khilafku akibat salah di masa lalu. Beri aku waktu untuk menyembuhkan segala kotoran di hati ini agar yang ada hanya KAMU ya Rabb…”
Doa it uterus ku ulang-ulang.
Memasuki Rakaat ke-6 Tahajjudku. Air mataku semakin tak tertahankan.
“Apa lagi Rangga… Apa lagi yang mau kau katakan kepada Allah? Bentuk protes apa lagi yang hendak kau kirimkan kepada-Nya jika Allah telah memberi segalanya. Allah telah memudahkan studi S1-mu, meski tanpa biaya orang tua, Allah memudahkan jalanmu untuk meraih prestasi membanggakan selama studimu. Allah mudahkan hidupmu dengan pertemuan bersama orang-orang shalih yang menenangkan dan penuh nasihat, Allah mencelupkanmu dalam balutan kasih saying-Nya untuk senantiasa mengingat-Nya, Allah memberimu nikmat yang tak terhitung jumlahnya.
Lalu kini? Jika hanya seorang Maryam Syakila yang tak bisa kau miliki. Haruskah kau hentikan rasa syukurmu? Haruskah kau habiskan harimu dengan sederetan pelarian dari jalan Allah sebagai bentuk betapa kecewanya dirimu kepada Allah? Haruskah Rangga? Haruskah… Sedang mencintai Allah itu membahagiakan… Memiliki Allah itu adalah kenikmatan yang tiada duanya.
Makhluk-Nya? Mengharap mereka adalah sebuah kebodohan, mencintai mereka dengan penuh seluruh adalah kejahiliyahan. Apa lagi Rangga? Apalagi yang tersisa selain ini adalah akibat dari kesalahanmu memelihara rasa. Jika berani, seharusnya sedari dulu kamu mulai berusaha untuk memilikinya dalam balutan ikatan suci yang indah. Tapi jika tak sanggup, seharusnya kamu TEGAS dengan hatimu. TEGAS dengan rasamu. Jika ia bukan untuk cinta yang halal, maka takkan kurasakan. Seharusnya begitu Rangga… seharusnya begitu”
Aku semakin tergugu hingga di akhir witirku. Tubuhku bergetar hebat. Rasa malu begitu terasa di dalam jiwaku. Sungguh betapa hinanya aku menangisi seorang Maryam Syakila hanya karena sebuah penolakan dan keadaan yang sebenarnya begitu sederhana saja. Tidak seharusnya aku larut dalam kesedihan yang sebagian besar karena ulahku. Kenapa aku sebegini terlukanya, sedang Allah telah menyediakan begitu banyak hikmah dan nikmat yang ada di tiap lembar hariku. Kenapa aku se sedih ini sedang Allah telah banyak memberiku kesempatan untuk melejit, melangkah, dan berbuat banyak hal untuk dunia. Ahh… aku kalah, kalah dengan godaan syetan yang memabukkan rasa di dalam dada.
Kukuatkan diriku ketika muhasabahku terhenti dengan lantunan azan subuh di Masjid dekat kos-kosanku.
“Aku harus memulai hariku yang baru… Penuh semangat… Penuh Antusias… Aku harus menghapus semua kenangan tentang Maryam… sekecil apapun aku harus menghapusnya…” Sahutku.
Subuh itu. Adalah subuh penghambaan penuh kekhusyuan yang pernah kurasa dalam hidupku.
“Allah… Jika dia memang bukan yang terbaik bagiku… Maka gantikanlah yang lebih darinya… Shalihkan diriku hingga aku mampu memiliki seorang permata jiwa yang juga seshalih diriku. Sempurnakan agamaku dengan seseorang yang akan kucintai sepenuh jiwaku Dan akan kujadikan ia sebagai belahan hati terindah di dunia. Namun jagalah agar hati ini selalu ada KAMU ya Rabb… hanya ada KAMU… bukan yang lain…”
Kuseka air mataku yang masih mengalir di ujung doa ku subuh ini. Mencoba menguati hati agar mampu melangkah.
“Jika tak hari ini, maka aku akan kalah selamanya…”
sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/17889/beginikah-cinta/#ixzz1ofkMy2GJ
0
Kasiyat Ariyat
Ini tentang aku, kamu dan cinta kita.
sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/18280/kasiyat-ariyat/#ixzz1ofijbq9A
Jujur, aku mencintaimu pada pandangan pertama. Kata orang, “Pandangan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda.” Hahaha. Kalimat itu tidak berlaku untukku. Faktanya, aku hanya diam. Ya, aku mencintaimu dalam diam. Kata orang itu bodoh. Tapi biarlah, karena aku punya cara sendiri untuk mencintaimu, yaitu dengan diam.
Mungkin, atau barangkali pasti, kau melupakan awal perjumpaan kita. Jika itu yang terjadi, tidak denganku. Aku sangat ingat awal pertemuan itu. Kau ingin aku mengungkapnya? Agar kau ingat? Baiklah.
Kala itu pagi masih buta. Aku baru saja menyelesaikan tugasku: Mengayuh sepeda senja sejauh 10 kilometer dari rumahku di ujung kampung menuju SMA baruku di pusat kota. Ketika aku baru saja ngaso, kau datang dengan pesona keshalihanmu. Ketika itu, kau bersama seorang lelaki. Belakangan kutahu, bahwa lelaki itu adalah calon mertuaku. Hahaha. Maaf, aku bercanda. Sudahkah kau ingat? Atau ingin kuceritakan lebih lanjut?
Kala itu senin. Awal masa orientasi di sekolah tempat kita akan bersaing dan memadu cinta. Ah, maaf lagi. Kali ini aku benar- benar aneh. Dan, biarkan keanehan itu. Sabtu sebelumnya, kau tidak masuk. Kau sedang berada di luar kota, itu berdasarkan keterangan yang kau sampaikan. Karena kau tidak tahu apa-apa, aku yang baru kau temui pagi itu, langsung diberondong dengan aneka warna pertanyaan. Jujur, aku sangat menyukai renyahnya suaramu. Jika krupuk, mungkin bisa langsung kumakan. Sayangnya, senin itu, aku sedang berpuasa.
Lalu, bak mitraliur, atau wartawan yang menemukan nara sumber, kau membrondongku dengan pertanyaan-pertanyaan seputar masa orientasi siswa yang akan berlangsung selama tiga hari. Sungguh! Ketika itu, pertanyaan yang kau sampaikan langsung kusimpan dalam hatiku. Pertanyaan yang kau sampaikan benar-benar menyentuh hatiku. Jika tidak berlebihan, aku ingin menyampaikan, ‘Kaulah gadis pertama yang ada dalam hidupku.”
Kau sudah ingat? Kalau sudah, biarkan aku melanjutkan kisah.
Oh ya, maaf! Aku belum menceritakan pertanyaan yang kau lontarkan itu. Pertanyaanmu sangat sederhana. Kira-kira seperti ini, “Mas, disuruh bawa apalagi? Perlengkapan apa saja yang harus kusiapkan?” dan seterusnya. Padahal, aku berharap kau bertanya seperti ini, “Mas, namamu siapa? Rumahmu mana? Maukah kau menjadi pacarku?” Dan, pertanyaan cinta lainnya. Tapi biarlah. Aku kemudian menjawab semua soal yang kau berikan, “Disuruh bawa air mineral 60ml tapi tidak boleh ada merk-nya. Papan nama dengan karton yang ditaruh di meja ukuran 20×30 cm, yang digantung di leher ukuran 10 x 30 cm. Oh ya, harus bawa roti. Kemudian topi dari ceting (tempat nasi bagi orang jawa), tas kresek ukuran 5kg. Sudah.” Kala itu, kau mengangguk manis, dengan melempar senyum kau berucap syahdu, “Terima kasih ya Mas.” Sayangnya, yang kudengar lain, “Terima kasih ya Mas. I Love You.”
Kau kemudian pergi dengan lelaki kekar yang menemanimu itu. Aku benar-benar berharap agar ia kelak menjadi mertuaku. Atau, aku menjadi menantunya.
Waktu kemudian memperjalankan kita. Tiga hari kemudian, aku terperanjak ketika melihat namamu bersanding dengan namaku dalam kelas yang sama. Ketika melihat fakta itu, aku tersenyum tipis, sangat manis, sambil berucap lirih,” Nampaknya, Allah memang menakdirkanmu untuk kumiliki.” Kesempatan ini, tidak mungkin kusia-siakan. Bersama denganmu adalah kesempatan emas bagiku untuk menebarkan umpan-umpan cintaku.
Sebelum dilanjutkan, aku ini berkata jujur. Lagi-lagi kukatakan, aku ingin jujur. Agar hatiku lega karena telah mengungkapkan ini.
Aku adalah lelaki berhati karang. Di SMP, banyak sekali gadis yang menaruh hatinya di hatiku. Tapi tak satu pun yang kutanggapi. Meski tidak berharta, jabatan ketua OSIS dan seabreg prestasi di tingkat sekolah, kecamatan dan kabupaten rasa-rasanya merupakan alasan yang logis mengapa banyak kaum hawa yang naksir kepadaku. Aku benar- benar tidak menanggapi rasa yang mereka lempar. Aku ingat sekali dengan pesan ustadzku di madrasah (Sekolah keagamaan), “Jika ingin berprestasi, jauhi wanita. Kau akan sukses.” Pesan itu benar- benar mantra ajaib yang senantiasa terkenang dalam pikir dan hatiku.
Namun, ketika bertemu denganmu, aku mendapati aura lain. Aura keshalihan yang mencerdaskan. Ini fakta yang kutangkap darimu. Fakta yang kemudian menjadi alasan logis mengapa aku berani mencintaimu.
Tinggimu sekitar 170 cm. Tinggi ideal sosok wanita yang ada dalam pikiranku. Tubuhmu semampai. Langsing dan enerjik. Wajahmu oval, bersih dan alami. Aku tahu persis bahwa dirimu tidak suka memakai make up layaknya teman-teman sebayamu. Kau begitu percaya diri dengan bedak tipis untuk menghalau debu.
Dari perkenalanmu kemarin, kutahu bahwa kau adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakakmu adalah sarjana teknik di Universitas Gajah Mada dan Universitas Indonesia. Kau menyelesaikan pendidikan menengah pertama di pesantren boarding school di bilangan Yogyakarta. Pantas saja, kau begitu lihai dalam hal agama. Ini adalah poin penting. Karena aku sangat menginginkan istri jebolan pesantren yang melek agama.
Otakmu juga encer. Kau pandai fisika, doyan matematika, dan sangat lahap ketika disuguhi kimia. Satu kelemahanmu: Bahasa Inggris. Bagiku, kelemahanmu adalah keuntungan bagiku. Karena aku adalah pakar bahasa inggris. Aku pernah menjuarai lomba bahasa inggris tingkat kabupaten ketika SMP. Aku pun akan dengan senang hati melayani konsultasimu di bidang bahasa. Dan sebaliknya, ketika aku tidak nafsu dengan kimia, aku bisa mendatangimu agar mengolah kimia menjadi menarik, setidaknya sesuai sajian yang kau berikan.
Satu lagi, aku sangat naksir dengan jilbab putih yang selalu kau kenakan. Jilbab itu, bagiku adalah kesejukan. Di tengah ketelanjangan teman-teman yang mengumbar aurat, kau begitu mempesona. Jilbabmu itu lebar, menutup pundak juga dadamu. Ah, aku benar- benar menangis kala mengingat ini. Jilbabmu benar-benar menawan hatiku.
Kukira, alasan-alasan yang kukemukakan sangatlah logis. Aku pun berani mengatakan, “Akan kutaklukkan hatimu, untuk hatiku.”
Waktu berlalu, hingga memasuki akhir semester pertama. Aku masih sama, mencintaimu dalam diam. Aku tidak berani menyatakan isi hatiku. Aku hanya memperhatikanmu dari kejauhan. Aku selalu menunduk saat kau memandangku. Aku selalu diam saat kau bicara. Dan ketika kau diam, aku ingin sekali berkata. Hanya tiga kata, “Aku Cinta Padamu.” Sayangnya, aku tak cukup jantan. Ketika berniat, ketika itu pula aku terdiam. Lidahku seakan tertahan. Kerongkonganku seakan terhenti. Pita suaraku pun menjadi layu. Iya, semua terjadi karena pesona keshalihanmu yang menawan hatiku satu-satunya.
Tibalah pada suatu masa, ketika liburan akhir semester satu. Siang itu, aku sibuk bersama ibu di kebun melati milik tetangga. Aku menjual tenagaku sebagai pekerja pencabut rumput. Ketika aku baru menyelesaikan satu baris, adik keempatku mendatangiku dengan tergopoh. Ia seperti di kejar maling. Tapi aneh, ia datang sambil tersenyum.
Dari jarak tiga meter, ia berteriak, “Mas, pulang! Ada tamu. Dua orang wanita cantik berjilbab. Naik motor. Katanya temannya Mamas.” Ibu hanya member isyarat, tanpa kata, agar aku segera pulang. Di tengah perjalanan, adikku itu berbisik menggoda, “Pacarnya Mamas ya?” Serta merta pipiku merah dan menyembunyikannya dengan menggertak adikku, “Hush! Ngawur aja.” Dia segera berlari sebelum kujewer.
Setibanya di rumah, aku masuk lewat pintu belakang. Sambil ganti baju aku mengintip. Dari hasil intipanku, kulihat wajahmu. Ya. Aku tidak menyangka bahwa kau datang ke rumahku. Aku juga baru ingat kalau hari itu adalah ulang tahunku yang ke tujuh belas. Eh maaf. Maksudku gubukku, bukan rumahku. Dari intipanku itu pula kulihat tiga sosok temanmu. Dua dari kelas kita, sedangkan satunya seorang lelaki tampan dari kelas sebelah. Kukira, itu adalah pacarmu.
Setelah mengenakan pakaian yang layak, aku menemui kalian. Sedikit basa basi aku lontarkan, demikian juga dengan ceritaku bahwa aku baru saja dari kebun. Sekitar lima menit kalian bercerita, aku hanya mendengarkan sembari mengeluarkan sajian ‘cinta’ ala kadarnya, teh manis dan makanan ringan. Dari perbincangan itu, kuketahui bahwa lelaki itu adalah pacarmu.
Sebenarnya aku bersedih, aku ingin menangis, karena aku tidak berani menyatakan isi hatiku. Kukira, ketika aku bicara padamu, kau akan menerimaku apa adanya. Karena pacarmu itu tidak jauh beda denganku. Bahkan, aku yakin bahwa aku lebih darinya. Lebih pandai dan lebih tampan. Sayangnya, aku tak lebih kaya. Ia bisa memboncengkanmu dengan motor keluaran terbaru sedangkan aku hanya mengayuh sepeda ontel menuju kampus kita yang jaraknya sepuluh kilometer.
Sebelum pulang, kau memberikanku sebuah kado: jam cantik berbentuk Ka’bah. Ah, melihat kado darimu itu, aku langsung berimajinasi, “Andai kau terima cintaku, kita pasti akan berhaji bersama sebagai suami-istri.”
Nampaknya itu hanya mimpi. Kedatangan diri dan pacarmu hari itu, sungguh membuatku patah arang. Aku masih mencintaimu. Tapi aku tetap tak berani untuk sekedar menyatakannya. Anehnya, rasa itu masih saja bertengger di hatiku. Aku, sesungguhnya, masih berharap akan datangnya cintamu.
Memasuki semester kedua, prestasiku semakin menggila. Ditambah bintangku yang semakin cemerlang ketika terpilih menjadi wakil ketua OSIS. Padahal aku baru saja kelas satu. Aku berhasil mengalahkan kandidat lain yang lebih senior. Belum lagi ketika aku mulai menapakkan kaki di tingkat kabupaten. Mengikuti ajang siswa teladan, kemudian menempati posisi keempat. Prestasi yang cukup membuat teman-teman iri. Apalagi dengan terpilihnya aku sebagai penerima beasiswa bakat dan prestasi. Meski sibuk dengan segudang aktivitas, sedetik pun aku tak pernah melupakanmu di hatiku.
Kulihat, kau makin mesra dengan pacarmu. Hampir setiap hari aku mendapati kalian berdua. Di kelas, di kantin, ke masjid, di perpus dan seterusnya. Bahkan, pernah kudapati kalian berboncengan ketika pulang dan pergi sekolah. Aku cemburu. Aku marah. Tapi, Aku Siapa? Ah, lupakan saja kawan.
Akhir semester dua, perpisahanku denganmu semakin jelas. Meski sejak awal, kita juga tidak pernah mengikat hati untuk bersatu. Apalagi dengan dipisahnya kita di kelas yang berbeda. Aku di IPA 2 sedangkan kau masuk ke IPA 5. Anehnya, di tahun itu aku melihat kau mulai tak rukun dengan pacarmu yang pertama itu. Kalian sudah mulai mengatur jarak. Pikirku, ini adalah kesempatan bagiku untuk mendekatimu dan merebutmu untuk benar-benar kutaruh di hatiku. Sayangnya, lagi-lagi aku tak cukup berani untuk sekedar memberikan surat yang telah kutulis sejak enam bulan yang lalu.
Tahun kedua, aku malah naik jabatan. Menjadi ketua OSIS. Semakin sibuk di Rohis, Kepanduan, PMR juga organisasi siswa lainnya. Nyaris saja, waktuku habis untuk kegiatan. Dalam taraf ini, aku benar-benar mengacuhkanmu. Meski ketika kulihat hatiku, namamu masih setia di sana. Ya, keshalihanmu benar-benar membuatku tertawan. Semester keempat, aku berhasil meraih juara satu lomba siswa teladan tingkat kabupaten. Prestasi itu sesungguhnya kupersembahkan untukmu. Sayangnya, kau tidak pernah tahu. Bahkan untuk sekedar mengucapkan selamat pun, kau tak lakukan itu. Herannya, ketika aku ulang tahun yang ke dua puluh, kau tetap mengirimku kado. Kali ini lebih misterius, tanpa identitas apapun. Kau memang pandai mengejutkan.
Pada tahun itu pula, aku melihatmu mulai menggandeng lelaki lain. Kali ini orang yang kau pilih dari jurusan IPS. Tampangnya tajir, motornya keren, orangnya juga atletis. Salah satu atlet di sekolah kita. Ia pandai main bola, bulu tangkis dan olahraga lainnya. Makin hari, kulihat kalian makin mesra saja. Ternyata, kau suka gonta ganti pasangan.
Bagiku, itu tak masalah. Karena yakinku penuh, wanita tergantung siapa lelakinya. Jika kau menjadi pacarku, kuyakin kau akan menjadi lebih shalihah, dibanding sekarang. Sayangnya, lagi-lagi kukatakan, aku tak berani untuk sekedar mengatakan, “Aku mencintaimu.”
Singkat cerita, kita berhasil lulus dengan gemilang. Angkatan kami mengukir prestasi sempurna. Lulus seratus persen dan tercatat sebagai peringkat kedua tingkat kabupaten. Dengan senyum kemenangan, kepala sekolah melepas kami, dengan bangganya.
Lulus merupakan kesuksesan. Tapi, ketika melihat kau bergandengan tangan dengan pacarmu, aku malah merasa gagal. Gagal mengakui apa yang kurasa. Tiga tahun mencintaimu, selam itu pula aku tak berani untuk sekedar mengungkapkan isi hati. Bahkan surat yang sudah kusiapkan tak berani kuserahkan kepadamu. Ya, aku lulus. Tapi aku gagal.
Dari temanmu, kutahu bahwa kau memilih untuk kuliah di kota Apel, Malang. Aku yang dituntut oleh keluarga untuk membantu adik, harus memilih peran sebagai kuli. Ibu kota adalah yang kupilih untuk melabuhkan cita-cita. Di sana, aku diterima menjadi karyawan pabrik di kawasan Jakarta Pusat. Tepatnya di daerah Sunter.
Dua tahun berlalu. Aku masih sering melihat dirimu dalam imajiku. Bahkan, senyummu seringkali bertabrakan dengan senyumku ketika aku sendirian. Renyah tawamu masih terdengar ketika malam mulai merayap dalam hening. Jilbab putihmu itu, seakan berkibar terus dalam pandanganku. Fisikmu memang jauh, tapi hatiku serasa dekat sekali dengan sosokmu. Oh ya, ketika sesekali kulihat hatiku, namamu masih saja berada di sana. Ia dengan enjoy bermain-main di dalamnya. Bahkan, kulihat sesekali kau menyatukan hatimu, dengan hatiku.
Tak ada sedikit pun informasi yang kuterima tentang dirimu dalam kurun tiga tahun itu. Meski demikian, aku berani mengatakan, kau masih ada di hatiku. Mungkin, inilah cinta pertama. Ah, tapi apapula perlunya membahas cinta pertama? Haha
Sampai akhirnya, pada sebuah ruang maya, aku menemukan sosok yang mirip denganmu. Nama dan wajahmu persis. Karena penasaran, aku pun meng-klik akun atas namamu. Awalnya, aku ragu. Takut kalau itu bukan dirimu. Kemudian dengan keberanian yang kupaksakan, aku benar-benar mengajakmu berteman. Tak berapa lama, kau menyetujui permintaan pertemananku. Dari sinilah, cinta yang telah lama kupupuk itu, menguap begitu saja. Hilang tak berbekas.
Sore itu, sepulang kerja. Aku sangat penasaran dengan sosokmu yang baru itu. Aku pun memberanikan diri untuk membongkar akun atas nama dirimu itu. Yang kutuju pertama kali adalah kumpulan fotomu. Ada foto profil dan foto dinding. Ketika semua gambar ku-klik, aku terperanjat bukan kepalang. Istighfar sejadi-jadinya. Perutku mual, ada rasa jijik. Aku sungguh tidak menyangka bahwa akun itu benar milikmu.
Tampilanmu kini, sudah sangat berbeda. Jilbab putih itu sudah kau lepas. Rambut panjang itu, sudah kau potong seperti lelaki. Rok rapi itu, kau permak. Tingginya sekitar lima sentimeter dari lutut. Artinya, (maaf) pahamu terbuka. Siapa pun bisa menikmati untuk memandangnya. Gamis panjang dan kemeja yang dulu melekat di tubuh rampingmu, kini kau ganti dengan kaos kekecilan sehingga nampaklah lekuk tubuhmu. Yang paling mengherankan, ada foto-fotomu dengan pose sangat terbuka di sebuah pantai. Di sana kau senyum-senyum di depan kamera. Mempertontonkan indahnya tubuhmu. Meski masih berbusana, Hadits menyebutmu dengan, Kasiyat Ariyat, Berpakaian tapi Telanjang. Na’udzubillah. Aku, sungguh tidak mengira. Bahwa kau adalah yang kucinta.
Dalam lirih, aku hanya berdoa, semoga Allah kembali memberimu hidayah. Selamat tinggal cinta…
sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/18280/kasiyat-ariyat/#ixzz1ofijbq9A
Langganan:
Postingan (Atom)