Beginikah cinta?
“Beginikah jadinya? Beginikah rasanya mengakhirkan harapan?
Beginikah rasanya menghentikan cinta yang sudah terlanjur dalam?
Aku harus berkata apa? Bertanya pada siapa?”
Jalanan ini tentu saja takkan memberi jawab. Sore menuju senja yang selalu indah ini tentu saja takkan menenangkanku. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain kekalutan yang luar biasa menghinggapi dada.
“Haruskah melepasmu cinta? Melepas segala rasa yang tumbuh subur merekah hingga kini dan entah kapan berakhirnya?
Haruskah ku bunga jauh-jauh penggal harap yang entah kenapa masih membuatku sesak ketika kutahu aku tak bisa memilikimu cinta?
Haruskah aku membalikkan semua waktu agar perasaan ini tidak pernah ada di dalam diri? Atau setidaknya…
Ahh… Allah… mungkinkah kau izinkan aku mengembalikan kekosongan jiwa agar yang terisi hanya KAMU? Hanya KAMU ya Rabb… Hanya KAMU… hanya KAMU yang kucinta. Mungkinkah ya Rabb?”
Dadaku semakin sesak. Air mata lagi-lagi dengan tak sopannya keluar tanpa pernah mau kuperintahkan. Aku laki-laki, dan kini aku menangis.
“Aku benci dengan perasaan ini. Benci dengan keadaan ini.
Aku sadar aku harus bangkit. Tak boleh lemah hanya karena kehilangan kesempatan merealisasikan harapku.
Aku tak boleh kalah, hanya karena imaji yang sedari dulu kubangun akhirnya pergi dan menghilang tanpa bekas. Aku benci dengan semua perasaan yang telah porak-poranda ini. Aku harus bangkit. Tak boleh seperti ini.”
Kukuat-kuatkan hatiku agar tetap seperti dulu. Tenang dan segar. Namun percuma. Setiap larian kecilku mengelilingi kampus hijau ini, membuatku semakin tergugu. Pikiranku tak bisa untuk kuhentikan dalam mengingat sang permata jiwa. Semua kenangan seperti tergambar jelas di benakku. Kenangan tentangnya semua menyeruak tanpa tahu betapa aku sakit ketika mulai mengingatnya.
Cinta… atau entah apa namanya. Kenapa begitu mempengaruhiku hingga semua alam rasionalku pergi entah kenapa. Maryam Syakila, sosok itu. Yang mengisi penggal harapku hingga detik ini terus saja berkeliling di alam pikirku.
“Sedalam inikah perasaanku? Separah inikah aku tenggelam dalam cinta yang semu?
Jika memilikimu bukanlah takdirku, maka tolong berilah aku kesempatan untuk pergi darimu. Sejenak melupakan apapun tentangmu.
Aku ingin amnesia sejenak, tak pernah mengenal siapapun terutama kamu dari hidupku. Ini terlalu menghempaskan. Merebut semua rasaku.
Aku mati, mati rasa.
Dalam kekakuan, kebekuan, namamu masih saja ada. Harus ku kata apa, jika memang segalanya begitu dalam terasa? Harus kubilang apa cinta?”
Aku membodoh-bodohkan diriku sendiri setelah melewati lebih dari 3 kilometer. Berlari tanpa arah. Pikiranku tertuju kembali mengenang kisah usaha untuk melamar Maryam Syakila selama 2 pekan ini.
“Mohon maaf, apakah Zahra bisa membantuku mencari tahu perihal Maryam Syakila? Bukankah dia sahabatmu sejak SMA?” Sapaku kepada Zahra, sahabat dekat Maryam semenjak SMA. Setahuku mereka memang masih dekat hingga sama-sama melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia (UI). Kukirim email singkat ini kepadanya.
Jangan Tanya degupan jantungku saat itu. Aku begitu tegang tak terkira. Ini adalah momen yang sudah kutunggu sejak lama. Sudah 9 tahun, aku mengagumi sosok bernama Maryam Syakila. Dia sederhana, tak banyak bicara, namun cerdas dan mempesona. Apalagi yang mau kukata jika dia telah menjadi yang pertama dalam perasaanku, dan entah kapan lagi aku bisa mengakhirkan segala rasa ini. Perasaanku semakin dibuat tak karuan ketika mengetahui keshalihannya. Semenjak SMA, baju seragamnya yang panjang ditutupi dengan jilbab yang terurai indah sampai ke dadanya membuat jantungku semakin berdetak kencang setiap kali bertemu dengannya. Aku harus berkata apa, jika cinta telah merenggut habis semua perasaanku? Aku hendak menghentikan segalanya, namun segala tentangnya telah merebut habis setiap sisi hatiku. Aku juga hendak menghentikan segala pengaruh tentangnya, tapi apa lagi yang mampu ku buat, ketika penantian hamper 10 tahun ini, akhirnya datang juga. Ini kesempatan terbaikku untuk merealisasikan imaji, harap, dan doa yang sudah kusimpan erat sejak dulu. Aku harus melamarnya dan menjadikannya istimewa dalam nyata. Itu saja. Tak ada yang lain yang aku siapkan dan pikirkan selain merealisasikan segala rencana untuk menikah dengannya.
“Oh ya… Alhamdulillah saya masih sering berkomunikasi dengannya. Ada apa ya?” Zahra membalas emailku melalui YM yang kuhidupkan sejak tadi.
“Hmmm… Saya hendak menjalankan salah satu sunnah Rasul. Saya ingin tahu apakah Maryam Syakila sedang proses Ta’aruf atau telah di khitbah oleh seseorang? Jika tidak, saya ingin melamarnya…” Jawabku tanpa pikir panjang. Buatku ini melegakan.
“Oalah…” Jawab Zahra sedikit kaget.
“ :) ” Aku membalasnya dengan icon tersenyum, memahami kekagetannya.
“Baiklah Rangga. Tunggu aja ya kabarnya dalam 1-2 hari ini. Insya Allah akan saya beritahukan informasinya…” Tutup Zahra
Sudah 2 pekan ini, malam-malamku adalah malam-malam penghambaan penuh khusyu kepada Allah. Aku mengirimkan doa terindah kepada-Nya, berharap DIA berkenan mempertemukanku dengan Maryam. Berharap segala daya dan usaha yang kulakukan hingga saat ini diberkahi dengan sebuah momen terindah yang telah kupatrikan dalam do’a-do’aku selama 9 tahun ini. Aku hanya berharap memilikinya, itu saja.
Esoknya, aku menerima sms singkat dari Zahra yang memberitahukan info lengkap soal Maryam ada di inbox emailku.
Aku buru-buru membuka emailku berharap ada berita yang melapangkan jiwaku. Namun betapa kagetnya, ternyata isi email yang dikirimkan Zahra kepadaku sungguh berbeda dengan yang kukira.
“Mohon maaf Rangga… Saya sudah mengecek kondisi Maryam, terkait kesempatanmu untuk melamarnya. Saat ini, dia sudah di khitbah oleh seorang ikhwan dan Insya Allah akan melangsungkan akad dan walimahannya bulan Desember tahun ini…”
Hilang sudah… Pecah… Semua harapan itu sirna. Aku terlambat, sangat terlambat. Tubuhku bergetar seketika, hatiku tak bisa berkata apa-apa selain merasai kekalutan yang luar biasa. Aku terdiam, dan tak sadar, air mataku dengan sendirinya mengalir.
Habis sudah… kering… tak ada lagi harapan yang ku bangun bertahun-tahun. Aku memang lambat, aku memang bodoh, aku memang kerdil. Kenapa sedari dulu aku tidak memulai duluan untuk melamarnya? Kenapa dari dulu aku tidak berani merealisasikan segala macam perasaan ini agar mampu bersama dengannya? Kenapa?
Beribu pertanyaan berkecamuk di dada. Lebih dari itu, aku menyesal, begitu menyesal. Kenapa aku begitu terlambat membuat keinginan yang kubangun sejak 9 tahun ini menjadi nyata. Kenapa?
Aku membodoh-bodohi diriku sendiri karena terlalu lama dalam beraksi. Jika aku cinta, harusnya aku lebih berani dari siapapun. Jika aku cinta, harusnya aku tak menunggu lama. Dan jika ini gagal, harusnya aku tak sesedih ini, aku tak sehancur ini. Tapi kenapa?
Perasaan yang tak karu-karuan itu aku larikan hingga sore ini. Jalanan di sekitar kampus masih kususuri sembari mengingat kegagalan melamar Maryam Syakila.
“Andai pesonamu hanya sesederhana bunga jalanan…
Maka mungkin sedari dulu telah kulupa…
Tapi pesonamu adalah pesona edelweiss yang sulit tuk kugapai dan kupetik tangkainya.
Pesonamu adalah pesona menggetarkan yang terpancar dari kecintaanmu pada Allah bersama orang-orang yang mencintai-Nya.
Jika sebegitu kuat pesonamu menarikku, apa lagi yang harus kukata jika memang padamu, segala cinta ini telah terenggut?”
Aku menangis lagi, mengingat puisi sederhana itu kutulis beberapa saat setelah menerima email dari Zahra. Sungguh ini begitu berat terasa. Aku sungguh idiot, sungguh tolol, bagaimana bisa aku mengingatnya dalam ingatannya yang begitu sulit untuk kulupa.
“Jika GAGAL, maka lupakan…”
Teringat nasihat dari seorang sahabatku. Aku harusnya mampu melupakannya. Melupakan Maryam Syakila dalam setiap sisi hatiku.
Lagi-lagi kukuatkan diriku agar mampu melewatinya. Keringatku mulai bercucuran ketika mendekati gedung Fakultas Teknik, menuju labku. “aku harus tenang… Sabar…” Kucoba menguatkan hatiku walau pikiranku masih kalut.
***
Sejak ba’da Isya tadi, aku sudah rebahan. Sepertinya tubuhku lelah karena menangis. Sebeginikah parahkah? Aku bahkan tak mampu memikirkan sebelumnya kalau efeknya akan begitu hebatnya. Mataku baru terpejam beberapa jam kemudian.
Samar-samar aku terbangun, di kamar kos-kosanku yang sederhana. Lampu masih kumatikan semenjak istirahat tadi, gelap di sekeliling ruangan. Kuhidupkan handphone-ku melihat jika ada pesan penting yang masuk sekalian melirik jam berapa sekarang. Sudah 04.00 dini hari rupanya. Aku tertidur cukup lama.
Kubuka selimut yang menghangatkan tidurku sejak semalam, kemudian menuju kamar mandi dan mengambil wudhu. Apalagi kini yang tersisa, selain Allah sebagai zat terbaik untuk mengadu?
4 raka’at awal kulewati dengan luruh air mata yang tak terbendung.
“Allah…
Beginikah jadinya jika aku berani bermain hati? Beginikah jadinya jika aku menyisihkan cinta-Mu yang agung dan begitu purna? Beginikah akibatnya?
Ampuni aku, dalam khilafku akibat salah di masa lalu. Beri aku waktu untuk menyembuhkan segala kotoran di hati ini agar yang ada hanya KAMU ya Rabb…”
Doa it uterus ku ulang-ulang.
Memasuki Rakaat ke-6 Tahajjudku. Air mataku semakin tak tertahankan.
“Apa lagi Rangga… Apa lagi yang mau kau katakan kepada Allah? Bentuk protes apa lagi yang hendak kau kirimkan kepada-Nya jika Allah telah memberi segalanya. Allah telah memudahkan studi S1-mu, meski tanpa biaya orang tua, Allah memudahkan jalanmu untuk meraih prestasi membanggakan selama studimu. Allah mudahkan hidupmu dengan pertemuan bersama orang-orang shalih yang menenangkan dan penuh nasihat, Allah mencelupkanmu dalam balutan kasih saying-Nya untuk senantiasa mengingat-Nya, Allah memberimu nikmat yang tak terhitung jumlahnya.
Lalu kini? Jika hanya seorang Maryam Syakila yang tak bisa kau miliki. Haruskah kau hentikan rasa syukurmu? Haruskah kau habiskan harimu dengan sederetan pelarian dari jalan Allah sebagai bentuk betapa kecewanya dirimu kepada Allah? Haruskah Rangga? Haruskah… Sedang mencintai Allah itu membahagiakan… Memiliki Allah itu adalah kenikmatan yang tiada duanya.
Makhluk-Nya? Mengharap mereka adalah sebuah kebodohan, mencintai mereka dengan penuh seluruh adalah kejahiliyahan. Apa lagi Rangga? Apalagi yang tersisa selain ini adalah akibat dari kesalahanmu memelihara rasa. Jika berani, seharusnya sedari dulu kamu mulai berusaha untuk memilikinya dalam balutan ikatan suci yang indah. Tapi jika tak sanggup, seharusnya kamu TEGAS dengan hatimu. TEGAS dengan rasamu. Jika ia bukan untuk cinta yang halal, maka takkan kurasakan. Seharusnya begitu Rangga… seharusnya begitu”
Aku semakin tergugu hingga di akhir witirku. Tubuhku bergetar hebat. Rasa malu begitu terasa di dalam jiwaku. Sungguh betapa hinanya aku menangisi seorang Maryam Syakila hanya karena sebuah penolakan dan keadaan yang sebenarnya begitu sederhana saja. Tidak seharusnya aku larut dalam kesedihan yang sebagian besar karena ulahku. Kenapa aku sebegini terlukanya, sedang Allah telah menyediakan begitu banyak hikmah dan nikmat yang ada di tiap lembar hariku. Kenapa aku se sedih ini sedang Allah telah banyak memberiku kesempatan untuk melejit, melangkah, dan berbuat banyak hal untuk dunia. Ahh… aku kalah, kalah dengan godaan syetan yang memabukkan rasa di dalam dada.
Kukuatkan diriku ketika muhasabahku terhenti dengan lantunan azan subuh di Masjid dekat kos-kosanku.
“Aku harus memulai hariku yang baru… Penuh semangat… Penuh Antusias… Aku harus menghapus semua kenangan tentang Maryam… sekecil apapun aku harus menghapusnya…” Sahutku.
Subuh itu. Adalah subuh penghambaan penuh kekhusyuan yang pernah kurasa dalam hidupku.
“Allah… Jika dia memang bukan yang terbaik bagiku… Maka gantikanlah yang lebih darinya… Shalihkan diriku hingga aku mampu memiliki seorang permata jiwa yang juga seshalih diriku. Sempurnakan agamaku dengan seseorang yang akan kucintai sepenuh jiwaku Dan akan kujadikan ia sebagai belahan hati terindah di dunia. Namun jagalah agar hati ini selalu ada KAMU ya Rabb… hanya ada KAMU… bukan yang lain…”
Kuseka air mataku yang masih mengalir di ujung doa ku subuh ini. Mencoba menguati hati agar mampu melangkah.
“Jika tak hari ini, maka aku akan kalah selamanya…”
sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/17889/beginikah-cinta/#ixzz1ofkMy2GJ
Kasiyat Ariyat
sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/18280/kasiyat-ariyat/#ixzz1ofijbq9A
cerpenn
CINTA YANG TERPENDAM
By : raihani
From : http://www.cerpen.net/
Rasa itu, tiba-tiba saja hadir menghampiri hatiku, rasa yang sering sekali aku tepis dan aku musnahkan. Saat itu aku baru saja melanjutkan pendidikan ku di Perguruan Tinggi, cita-cita untuk menggapai masa depan yang lebih cerah, lebih baik sehingga aku memberanikan diri untuk melanjutkan studi di kota pelajar. Aku hanya ingin fokus demi kuliahku, demi masa depanku karena harapan orangtuaku berada dipundakku.
Alhamdulillah aku diterima dilingkukan kost yang sangat Islami “Istana Bidadari” yang membuatku semakin mendalami Islam dengan penuh keyakinan . Tanpa terasa perubahan itu langsung menjadi 180 derajat. Yang semulanya aku belum mengenakan busana muslimah, setelah berada di istana itu aku langsung mantap untuk merubah penampilan itu. Awalnya aku masih menggunakan baju muslimah “gaul” seiring waktu berjalan aku malu pada penampilanku sehingga aku memutuskan untuk menjadi muslimah sejati. Dengan dibaluti jubah dan kerudung yang menutupi auratku aku semakin mantap untuk mendalami Islam.
Waktu berlalu aku telah menginjak semester III, dilingkungan kampusku sangat sedikit sekali muslimah yang berpakaian sepertiku bahkan dikelas hanya aku sendiri yang berpenampilan seperti ini. Sehingga temen-temen cukup menghormatiku sebagai muslimah. Walaupun bukan hanya aku yang menggunakan kerudung tetapi mereka berpenampilan modis yang membuat mereka masih kelihatan menarik untuk diperhatikan.
Aku senang sekali dengan temen2ku dikampus walaupun kita berbeda keyakinan tetapi mereka cukup menghormatiku, sering sekali mereka bertanya tentang Islam kepadaku, khususnya tentang jilbab. Salah satu temen non muslim menanyakan kok ada jilbab yang kecil sama yang besar sih rai?, terus mereka pakai jilbab bajunya juga ketat, yang bener sih seperti kamu ray? Memakai baju dan kerudung yang menutupi degan sempurna”. Aku tersenyum mereka bertanya tapi bisa menyimpulkan sendiri.
Aku berusaha untuk berakhlak seperti yang telah diajari oleh Rasullullah SAW, setiap bertemu dengan sahabat2ku tidak lupa aku mengucapkan salam kepada mereka dan menyalami dengan penuh ikhlas kepada mereka tidak perduli mereka muslim apa tidak , kecuali laki2 dianjurkan tidak bersalaman dengan mereka karena bukan muhrim.
Aku merasakan terkadang dengan penampilanku seperti ini temen2 hampir tidak pernah berkata yang kasar ataupun yang tidak layak dihadapanku. Pernah suatu ketika temen2 sedang ngumpul untuk menunggu dosen , mereka sedang mengobrol sepertinya seru sehingga ramai. Saat itu aku baru masuk kekelas dan duduk tiba 2mereka menghentikan pembicaraan tetapai saat itu aku mendengar “ sst ada ray, g enak klw denger kan kita ngobrolnya ceplas ceplos. Dalam hatiku terseyum trima kasih temen2 kalian cukup menghargaiku.
Kegiatan rutin pengajian sering aku ikuti hampir setiap pekan aku mendapatkan materi dari murobbiku ataupun ustad yang berceramah. “manajemen qolbu” yang selalu membuatku ingin sekali menjaganya.
Tapi entah mengapa rasa itu tiba-tiba datang menghampiriku, seorang teman sekelas yang mulanya biasa saja , karena kepintaran , keramahan dan low profilenya membuat aku menjadi berfikir tentangnya. Sering sekali aku dinasehati ketika aku berbicara tentang seorang laki-laki maka nasehat yang sering aku dapati dari ustad adalah CUT, hilangkan fikiran itu kalau tidak mau dimasukin setan.
Aku mengkuti nasehat dari ustad setiap terlintas tentangnya maka aku berisitghfar dan mengcutnya dari fikiranku. Tetapi ketika aku berada dikampus rasa itu muncul secara tiba-tiba rasa simpati kepadanya entah mengapa sulit sekali aku mengcutnya. Karena itu muncul secara alamaiah di alam bawah sadarku. Tetapi nasehat ustd selalu aku turuti karena tidak ada conteks pacaran didalam Islam.
Aku berusaha meghilangkannya tapi aku ingin sekali sahabatku ini menjadi orang yang lebih baik, akhirnya aku memberikan Juz amma & Al-Matsurat kepadanya. Aku berharap dengan ini aku hanya mengingatnya karena teman seiman. Ternyata hal itu membuatku semakin mengingatnya, dan akhirnya hampir setiap hari aku mengingatnya. Apakah ini yang namanya jatuh cinta? Tapi tidak ada pacaran didalam Islam. Hari demi hari aku lewati dengan ada rasa didalam hatiku.
Aku mempunyai seorang sahabat hampir setiap hari dia sering menceritakan tentang pacarnya, walaupun kadang-kadang dia sering bertanya ISLAM g da pacaran ya, “tapi gimana ya.
Aku cuma menasehatinya ya hati-hati aja, karena memang pacaran itu kuncinya syaiton untuk menggoda kita.
Semester demi semester telah berlalu, rasa simpati itu semakin mendalam , kadang aku bertanya apakah perasaan itu sama yang dirasakan olehnya. Aku tidak pernah menceritkan perasaan itu kepada siapapun kecuali murobbiku. Kadang sering sekali aku merasakan beda dengannya , pernah suatu hari aku tidak sengaja beradu pandang dengan Arif aku semakin salah tigkah tetapi aku merasakan hal yang sama dengannya, kadang aku berfikir apakah hanya perasaanku saja.
Ketika aku menyapa teman dan memberikan salam cipika -cipiki kepada sahabatku yang perempuan spontan Arif mengatakan “jadi pengen sambil mengelus2 pipinya”.Pernah juga sahabatku Ulya yang selalu berangkat dan pulang bareng denganku , ketika Ulya berangkat dengan pacarnya Ulya tiba dikampus duluan, sehingga aku yang berangkat dengan bis datang belakangan, lalu Ulya mengatakan eh tadi Arif nanyain kamu Ray kok ray belum datang, aku yang mendenger itu merasa senang sekali apakah dia memperhatikanku.
Pernah suatu hari aku tidak masuk tetapi aku melihat absenku ada yang menandatangani, dalam hatiku bertanya2 siapa yang menandatangani aku berfikir si Ulya tapi ketika aku melihatan Ttd kok mirip dengan Ttd Arif aku semakin bertanya2. Pernah juga suatu hari tidak sengaja aku dan Arif berpakaian warna yang serasi tiba2 spontan temen2 meledeki cie kok pas ya, aku semakin salah tingkah walaupun aku berusaha tidak salah tingkah dihadapanya.
Tanpa terasa semester demi semester telah berakhir dan tiba saatnya Semua pada sibuk menggarap TA(tugas Akhir) konsentrasi sudah mulai terbagi-bagi. Aku dan Ulya sering mengerjakan bareng tetapi Ulya hanya sering curhat daripada mengerjakan. Dia memperlihatkan foto mantan pacarnya wow banyak sekali kataku. Kok bisa, dia hanya tersenyum, ulya cuma mengatakan Ray pasti nggak pernah pacaran ya. Aku tersenyum tetapi Ulya merasa penasaran denganku jadi selama ini ray g ada pernah jatuh cinta atau gimaa gitu kok bisa? Aku tidak bisa berbohong stiap manusia pasti punya rasa itu tidka dipungkiri, dan akhirnya untuk pertama kali aku curhat kepada Ulya tentang perasaanku tetapi aku hanya megatakan “aku simpati pada Arif” O ya tapi aku fikir2 kayaknya Arif juga gitu deh sering gitu tanyain amu Ray Ulya menjawab, Ray kok belum datang, atw kok g bareng sama Ray. Aku bilang sudahlah itu cuma pertanyaan biasa. Kitakan cuma temen aku juga cuma simpati karena dia pinter aja.
Tanpa terasa wisuda , ya wisuda I yang temen2 nanti-nantikan tidak terasa kuliah sudah slesai tetapi sampai saat ini aku hanya memendam rasa, aku berfikir berarti aku tidak akan pernah berjumpa dengannya lagi, tapi rasa ini sulit sekali untuk dihilangkan.
Hari bahagiapun tiba wisuda aku sedih sekali karena kedua ortuku tidak bisa mendampingiku disaat hari bahagia ini , tetapi aku cukup terhibur dengan kehadiran sahabatku2 di istana bidadari”. Senyum kebahagiaan terpampang dari temen2 wisuda, untuk tmen sekelasku tidak banyak yang wisuda cuma 10 orang karena ini termasuk wisuda dengan lulus cepat. 2 ½ tahun DIII.
Blist2 kamera yang selalu menghiasi ruangan untuk memotret para wisudawan. Acarapun selesai aku hanya memandangi kebahagian temen2 bersama keluarganya.
Sahabat-sahabatku dari Istana Bidadari semua memberikan ucapan selamat padaku dan akhirnya kamipun foto bersama2 tanpa disadari temenku Sinta memperhatikan Arif ei.ei tunggu, ada yang ngambil foto kita loh tu . Aku langsung melihatnya benar itu Arif semakin membuatku penasaran.
Tidak terasa wisuda sudah tiga hari berlalu tinggal menunggu Ijazah yang akan di ambil kampus, aku menuju kampus aku berfikir hanya tinggal beberapa hari saja aku akan hadir dikampus setelah itu mungkin entah kapan aku akan bisa ksini lagi fikirku. Aku bertemu dengan teman2 yang sedang mengambil kenangan wisuda kami saling bersalaman , aku tidak melihat Arif, “oh fikirku ini adalah hari terakhir tetapi dia tidak ada” dengan perasaan sedih aku menuju ke bis untuk kembali ke kosku, didlam lamunanku aku dikagetkan dengan deringan sms , lalu aku membuka pesan singkat itu
“halo ray pa kabar, udah ngambil ijazah, ow ya udah lihat belum foto-foto wisuda , banyakloh foto-foto temen kita, foto ray juga ada. Aku salut sama anak kost Istana Bidadari mereka kompak ya, , ow iya ray nanti ray mau melanjutka S1 g? Lanjut ya Ray biar kita bisa sekelas lagi.ray selama ini kita hanya berteman biasa bisa lebih g?”
aku membaca sms itu dengan seksama, aku berfikir siapa gerangan yang menulis sms itu, pertama kali aku berfikir temenku Riana tetapi setelah membaca kalimat terakhir aku menjadi penasaran tidak mungkin itu seorang wanita. Aku berfikir siapa yang mengirim sms ini tidak ada nama, aku membalas sms tersebut “maaf ini siapa ya” tidak ada balasan dan tidak pernah di sms lagi setelah itu.
Aku menjadi penasaran siapakah gerangan, apakah itu Arif fikirku sepertiya tidak ada teman yang mengetahui nama kostku. Aku berfikir panjang.
Ray datang kekostku untuk sekedar bermain , aku memberitahukan sms itu , ow ya siapa ya coba aku hubungi nomornya, ternyata suara cewek kok Ray.
Ulya tertuju pada Arif , mungkin saja Arif ya nanti deh kapan-kapan aku mau ngorek2 informasi dari Arif. Jangan-janagn mang Arif Ray
Hampir 2 minggu Ulya tidak pernah menghampiriku setelah kuceritakan sms itu, ada apa gerangan dengan sahabatku ini. Apakah sakit fikirku. Sore itu aku menjenguk Ulya, aku mengetuk pintunya “Assalamu'alaikum “
Ulya : “ ya sebentar”
ulya membukakan pintunya lalu Ulya kelihatan kaget melihatku, aku bertanya
“kenapa ul, kok dah lama g ke kost sakit ya”
lalu dengan nada seperti rengekan manja ulya menjawab
“ray, ray maaf maaf ray”
“maaf , maaf apa Ul, mangnya ada apa kamu minta maaf”
“maaf ray , Arif , Arif”
“mangnya kenapa dengan Arif”
“arif ray ternyata ternyata dia menyukaiku”
jujur aku kaget, aku seperti tidak percaya, dan sedih tapi aku berusaha untuk bersikap biasa2 saja didepan Ulya,
ulya” maafkan aku ray, aku jadi tidak enak denganmu”
“kok jadi g enak” kataku, “lah biasa aja “
kan “aku g da apa -apa dengannya, aku cuma simpati aja Ul karena dia pinter g lebih” kataku
“ kalau Arif senang denganmu ya apa salahnya dia kan baik Ul”
“maaf kan aku ya Ray” katanya
“aduh sahabatku” santai aja Ul
Pulang kekost aku sedih,aku kecewa,aku sangat malu seolah2 dunia ini mentertawakanku. Aku sedih. Berarti selama ini aku salah sangka, ini hanya perasaanku saja. Aku bener2 malu pada diriku.Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi, Ya Allah ternyata hamba salah selama ini aku telah menduakanmu, ampuni hamba ya Allah....